Ini
adalah cerita saya dengan lima orang sahabat saya. Empat orang sahabat saya
adalah Feni, Fika, Indah,Anggi dan Budi. Ya, sejak awal perkuliahan di mulai
aku sangat dekat dengan mereka berempat. Biasanya kami di juluki dengan sebutan
Ojek Gaul. Mengapa bisa disebut ojek gaul?Karena kami selalu ngomong asal
jeplak, dan tertawa bersama. Aku telah mengganggap mereka seperti saudara.
Kemana-mana kami selalu bersama, belajar bareng,jalan bareng dan lain-lain.
Kami dari daerah yang berbeda. Feni berasal dari Mojokerto, Fika berasal dari
Jombang, Indah berasal dari Papua, Anggi berasal dari Madiun, Budi berasal dari
Rembang, dan sedangkan aku berasal dari Balikpapan, tepatnya Kalimantan Timur.
Jauh bukan aku dari orang tuaku, makanya aku mengganggap mereka seperti
saudara.
Pada suatu hari kami berenam
berkumpul di aula mesjid kampus kami. Seperti biasa setiap hari Rabu kami
berkumpul untuk makan siang. Kami memiliki inisiatif setiap hari Rabu membawa
bekal makanan karena jadwal kuliah yang padat. Meskipun di aula banyak orang
tapi kami karena kelaparan langsung saja melahap makanan yang ada.
“Ikan asinya enak,ya “Ujarku. “Iya, sapa dulu yang
masak ?” jawab Feni. “Kokinya hebat untuk minggu ini”sambung Fika lagi. Aku yang
melihat makanan yang di bawa oleh mereka langsung saya menyikatnya tanpa
melihat keadaann sekitar.
Beginilah kami selalu apa adanya. Meskipun mereka
selalu mengganggap Aku orang berada tapi Aku selalu mengganggap mereka yang
lebih berada di kehidupan saya. Sekumpulan malaikat-malaikat yang di kirimin
Tuhan untukku. Aku selalu menjuluki mereka malaikat kecil Tuhan.
Kami pun berbincang-bincang sampai pada akhirnya aku
bertanya pada saat itu Budi sedang cuci tangan,”Eh, kapan sih ulang tahun Budi
?”. “Tanggal 29 Oktober” jawab Indah. “Ngado opo iki, rek ?” kata Anggi lagi.
“Iya, aku aja binggung mbak ang” jawabku. “Ngasih itu yang bermanfaat,
rek”sambung Feni. “Kasih aja sembako”jawabku asal nyablak. “Tapi ngasinya itu
bagaimana ?”kata Indah. “Tinggal dikasih aja kok repot”jawabku lagi. “Aduh ri,
masalahnya itu nggak enak aku takut dia tersinggung” sahut Indah lagi. “Bener
juga”jawabku lagi. “Orangnya datang, rek”sambung Fika.
Pada saat Budi datang suasana yang tadinya
berdiskusi sesuatu menjadi hening seperti malam hari yang sunyi tanpa perkataan
apapun. “Eh, rek aku loh tadi jualan donat” kata Budi yang memecahakan suasana
keheningan itu. “Oya, emank kamu jual berapa donatnya ?” lanjut Anggi.
“1000,mbak”jawab Budi. “Piye toh, Budi ini jualan kita nggak di tawarin”sambung
Feni. “Iya, tadi loh perut kita pas kalkulus keroncongan nggak karuan “ lanjut
Fika lagi. “Yah, aku nggak tau kalian tadi dimana ? Asal tinggallin aku aja”.
“Emank donatnya semana sih, Bud?”kata Indah lagi. “Yah, seperti biasa Ndah
“jawab Budi. Budi sahabatku adalah orang yang berkehidupan yang sederhana tapi
dia sangat ulet. Dia tidak pernah ingin merepotkan saiapapun apa lagi
sahabatnya. Setiap orang mungkin memiliki kelebihan dan kekurangan
masing-masing namu di balik kekurangan itulah kami saling menutupinya. “Iya,
tadi kita ke perpustakaan kampus habisnya loh di kelas rebut tadi”kata Indah.
“Aku tadi di tinggal sama Mbak Anggi di kelas”sambung Budi. Sambil makan kita
berbincang-bincang suatu permasalahan yang terjadi tadi di kelas. Karena kita
tidak ada dikelas jadi kita tidak tahu menahu tentang apa yang terjadi hari ini
di kelas.
Makan siang telah selesai sampai tak bersisa yang
hanya tersisa adalah kotak makanan. “Ayo, cuci tangan dulu yah ?” kataku. “Eh,
aku ikut” sambung Feni. “Iya, kalian berdua duluan ntar baru kita “kata Indah.
“Okey,bos duluan yah” jawabku sambil pergi bersama Feni menuju kamar kecil.
Setelah Aku dan Feni datang dari kamar kecil
kemudian Fika, Indah dan Anggi yang pergi untuk cuci tangan. Budi yang sedang
asik mengutak-atik laptopnya. Yah, karena keterampilan menulis karya ilmiah
kemarin dia mendapatkan juara. Dari hasil itulah dia dapat membeli sebuah
laptop. “Ah, laptop baru Bud “ kata diriku. Budi tersenyum kecil dan
berkata,”iya, sar. Alhamdulillah dapat rezeki kemarin”. “Sesuatu yah, Bud “ sahut Feni. Kami bertiga
pun kemudian tertawa setelah mendengar perkataan tersebut.
Akhirnya Anggi, Fika, dan Indah datang sehabis cuci
tangan tadi. Lalu di susul oleh Budi untuk mencuci tangannya. “Gimana ini, rek
“ kataku menyambung masalah yang tadi sempat terputus. “Eh, dia kan jualan
donat. Gimana kalo kita borong aja tuh donat terus kita bagiin ke anak-anak
sekelas. Kan ulang tahunnya pas ada mata kuliah matematika diskrit sekalian aja
bapaknya kita kasih. Sekalian dia syukuran “ jawab Indah. “Iya, bener “ sambung
Fika dengan semangat. “Ya udah, ntar kalo orangnya ke sini kita tanyain. Indah
aja yang maju” sahut Feni. Seperti biasa andalan kita bertiga yaitu Aku, Feni,
dan Fika yang selalu menanyakan sesuatu pasti Indah yang maju duluan. “Aku
lagi” jawab Indah. “Indah kan emaknya anak-anak” sambungku yang membuat tertawa
semuanya. “Jadi setuju kita beli donatnya Budi. Pesen berapa donat ?” kata
Anggi. “ Iya jangan naggung-nanggung”jawabku. “50 donat yah ?” sambung Indah.
“Yowes, deal yo ?” sambung Anggi. “Eh, orangnya datang”kataku mengagetkan semua
orang. “Tapi jangan bilang sama dia. Ini kejutan yang kita lakukan. Oke” kata
Indah. “Oke”jawab kami berempat secara serempak.
Budi pun datang menghampiri kita dan duduk di tempat
yang sama seperti pada saat makan siang tadi. Suasana kembali hening, sunyi dan
sepi seperti tengah malam. Lalu Indah mencoba memecahkan suasana tersebut.
“Bud, donatnya kamu jual Rp 1000 yah ?” kata Indah. “Iya, In. Kenapa ?” jawab
Budi. “Aku mau pesan dunk donat 50 biji soalnya mau ada acara,Bud. Bisa nggak ?”
sambung Indah. “Kalo pesan biasanya sama penjualnya Rp 600, Ndah” jawab Budi.
“Bukan, Bud aku mau pesan sama kamu dengan harga yang sama kamu jual ke
orang-orang” kata Indah lagi. “Oalah, mau tak pesankan ke pembuatnya” jawab
Budi. “Aduh, berarti tadi nggak nyambung yah Bud. Gini aja ntar aku hubungi
kamu lagi yah tapi harganya tetap sama yang kamu jual” kata Indah lagi. “Oke,
beres bos. Hari apa acaranya ?”lanjut Budi. “Hari Sabtu ini, acaranya pagi jadi
kamu bisa bawain pagi pas mata kuliah matematika diskrit. Bisa ?” jawab Indah.
“Oke, bos bisa” jawab Budi dengan semangat. Kami berlima pun tersenyum
mendengar dengan antusiasnya. Budi tidak tahu jika donat itu untuk merayakan
Ulang Tahunnya pada hari Sabtu ini.
****
Hari yang di tunggu-tunggu kami berlima pun datang
juga. Aku yang kost bersampingan dengan Indah dan satu gang dengan Fika
sepanjang jalan membicarakan hal ini. Apa yang akan terjadi jika kita
membagi-bagikan donat di kelas dan membuatkan kejutan untuk Budi. Budi yang
tidak tahu apa-apa dengan hal ini. “Pasti yang ada dia binggung ntar” kata
Indah yang membuka pembicaraan di jalan menuju kampus. Karena kampus dan jarak
kost sangat dekat jadi kami selalu pulang pergi jalan kaki. “Iya nggak ke
bayang. Apa yang akan terjadi ?” jawabku. “Ayo semangat” sambung Fika dengan
semangat yang mengebu-gebu.
Sesampainya di kelas, benar Budi membawakan 50 donat
seperti apa yang kami berlima pesan. Yang lebih anehnya lagi sma sekali dia
tidak curiga dengan kami berlima. Benar-benar membuat saya binggung. Tapi
baguslah dia tidak curiga dengan begitu kita bisa melaksanakannya tanpa
hambatan. Banyak anak-anaknya yang datang terlambat pada saat itu. Seperti
biasa dosen aku setiap hari Sabtu datang tepat waktu. Bahkan sebelum aku
datang, dosenku sudah datang duluan. Benar-benar tepat waktu, aku salut dengan
dosenku yang satu ini.
Aku, Indah, dan Fika memasuki kelas. Kemudian kami
duduk di deretan bangku depan. Kami bertiga melihat keadaan sekitar. Belum di
mulai mata kuliahnya masih banyak yang belum datang. “Ayo kita mulai”ajakku.
“Iya, mumpung belum di mulai ini”sambung Fika. Lali Indah maju dan meminta izin
kepada dosen kami. “Pak, maaf saya mau bagi-bagi donat soalnya ada seseorang yang
hari ini berulang tahun”kata Indah. “O…silahkan” jawab dosenku. Kemudian Indah
berbicara di depan kelas,”Teman-teman Alhamdulillah yah hari ini teman kita ada
yang berulang tahun maka dari itu kita telah mempersiapkan kado special untuk
dia. Kado syukuran kita bagi-bagi ke teman-teman berupa donat”. ‘Emank siapa
yang berulang tahun ?” sambung seorang mahasiswa kelasku. “Yang berulang tahun
hari ini adalah Budi” jawab Indah. Anak-anak di kelasku pun mulai rebut. “Ayo
Sari, Fika, Anggi, dan Feni silahkan maju untuk membagi-bagikan donat ini untuk
teman-teman”lanjut Indah. Aku, Fika, Feni, dan Anggi maju dan membawa
masing-masing sekotak donat untuk teman-teman. “Per orang ambil satu-satu
yah”.kataku kepada teman-teman.
Sementara Budi yang binggung hanya terdiam, dia
meneteskan airmata. Lalu Indah mengatakan,”Budi, mungkin ada sesuatu yang perlu
di katakana buat teman-teman”. Budi pun maju untuk mengatakan sesuatu sambil
meneteskan air mata,”Terimakasih kepada teman-teman saya terutama kepada
sahabat-sahabat saya. Saya pikir mereka lupa dengan hari jadi saya. Jujur saya
tidak pernah merayakan ulang tahun seperti ini. Terimakasih kepada Indah, Fika
dan kawan-kawan lainnya. Hari ini sangat berarti buat saya”.
Aku yang sedang sibuk membagi-bagikan donat tak sanggup
melihat sahabatku sedang menangis, namun tangisannya itu adalah tangisan
bahagia. Aku senang telah melakukan hal ini untuk sahabatku. Lalu Feni maju dan
berkata,”Bud, sekotak donat ini kami persembahkan untuk kamu”. Budi pun
langsung menangis sejadi-jadinya. Dia tidak pernah merayakan ulang tahun
seperti ini.
Aku dan sahabat-sahabatku tersenyum dengan bahagia
berhasil memberikan kejutan yang indah untuk sahabatku. Walaupun hanya sekotak
donat untuk dia. Namun dia merasa bahagia untuk hari ini.
“Kalian tahu aku
senang melihat senyuman para malaikatku. Hari ini aku bahagia dapat merasakan
hal yang seperti ini. Pasti kalian juga inginkan membahagiakan orang di sekitar
kamu apalagi sahabatmu. Ketika kamu jauh dari orang tuamu. Anggaplah mereka
sebagai sahabat, saudara dan orang tuamu. Mengapa aku bisa bilang seperti itu?
Yah, ketika kamu berbuat salah sahabatmu lah yang selalu mengingatkanmu. Ketika
kamu berbuat benar maka sahabatmu akan tersenyum dengan bahagia. Sesuatu yang
sangat indah ketika kamu berada di dekat dan di kelilingi sahabat-sahabat yang
sangat mengerti dirimu. Sekotak donak dari kami untuk sahabatku aku
persembahkan untuk para sahabatku yang berada di bangku kuliah pada saat ini”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar