Tidak
mendengarkan
Tidak
memperhatikan
Tidak
menatap mereka yang sedang memberikan presentasi tentang kerjasama mereka.
Itulah
yang saat ini Adrian lakukan. Tangannya sedang mencoret-coret sesuatu yang
tidak jelas. Pikirannya pun tidak tertuju pada rapat yang sedang berlangsung.
Ia hanya diam, dengan pikiran-pikiran yang melayang.
Masih
tertuju dengan perempuan dengan rambut sebahu, mata bulat berwarna hitam dengan
bibir merah, kulit yang mempesona. Membayangkan malam kebersamaan mereka. Malam
pertemuan mereka yang berakhir di atas tempat tidur.
Memikirkan
perempuan itu membuat sebagian tubuhnya merasa panas. Adrian sudah sebulan
berlalu seharusnya kau melupakannya runtuknya dalam hati.
Helaan
nafas keluar dari bibir Adrian. Ia merasa frustasi karena tidak mengetahui
siapa perempuan itu, bodohnya ia tidak pernah bertanya siapa namanya.
Adrian
tidak mudah jatuh cinta bahkan menyukai seorang wanita. Biasanya ia hanya
melakukannya disaat ia membutuhkan pelampiasan nafsunya tidak lebih.
Yang
membuat Adrian merasa bersama pada perempuan itu adalah ternyata ia masih
perawan. Damn!! Hal yang selalu
Adrian runtukki ketika ia bangun tidur dalam keadaan telanjang. Ia mencari
sosok perempuan itu. Ketika ia menyadari bercak merah di tempat tidur, Adrian
langsung tersadar bahwa orang yang semalam menemaninya adalah seorang yang
belum pernah di jamah oleh siapapun.
Seharusnya
ia bisa bertemu dengan perempuan itu. Tapi ia tidak mengetahui identitas apapun
dari perempuan itu. Ini adalah hal gila, karena dia selalu di hantui rasa
bersalah karena telah memerawani perempuan yang entah siapa namanya.
Tanpa
Adrian ketahui ada sepasang mata di ujung sana memperhatikan gerak-geriknya.
****
Sementara
itu, disebuah Apartement
Hoeekk
Hoeekk
Lauren
memuntahkan makanan yang ia makan pagi ini di wastafel kamar mandi. Wajah perempuan itu pucat fasih. Ia menopang
tubuhnya dengan kedua tangannya.
Craasshhh
Lauren
membasuh wajah dan mulutnya. Kepalanya terasa mau pecah. Ia berjalan menuju
tempat tidurnya dengan sempoyongan. Lalu ia merebahkan tubuhnya keatas tempat
tidur. Sambil menutup matanya.
Tangannya
mengelus perutnya. Ia akan mempertahankan anak ini apapun yang terjadi
sekalipun Ayahnya menyuruhnya mengugurkannya. Lauren sudah memiliki keyakinan untuk
menjaga anaknya.
“Kita
akan berjuang bersama, ehm?” senyum Lauren.
Tiba-tiba
telponnya berdering. Lauren melirih nama yang tertera ‘My Dad’. Lauren langsung terlonjak duduk di pinggiran tempat
tidur.
“Halo,
Dad”
“….”
“Eum,
aku sedang berada di Apartement”
“…”
“Baik,
dad. Aku akan ke sana dan bertemu
dengan Daddy.”
“…”
“Yah”
Lauren langsung bergegas mengganti pakaiannya. Ia akan bertemu dengan Ayahnya.
Sudah satu bulan ia tidak bertemu dengan ayahnya. Betapa rindunya hati Lauren
pada sang Ayah. Ayahnya akan menghubunginya jika ia berada di Jakarta. Dan
Lauren akan segera mengunjungi sang Ayah.
“Baby, hari ini kita akan mengunjungi
Opa, ehm” Lauren mengelus perutnya dengan lembut.
Ia
bergegas untuk mengganti pakaiannya dan pergi meninggalkan apartemen.
****
Lauren
melangkahkan kakinya masuk kesebuah perusahaan milik Ayahnya. Senyuman terukir
di bibirnya merahnya. Banyak karyawan yang memberikan senyuman kepada anak
pemilik perusahaan itu.
Lauren
masuk ke dalam lift banyak pasang
mata yang meriliknya. Namun Lauren seperti biasa hanya tersenyum tanpa
mengalihkan padangannya menatap ke depan ketika pintu lift tertutup.
Ting
Pintu
lift terbuka. Lauren keluar dari dalam lift menuju ruangan ayahnya. Namun seketika
langkahnya berhenti saat ia melihat seseorang yang sangat ia kenal.
“Kamu…”
ujar mereka serempak.
Sementara
itu Adrian mematung saat ia mengetahui seorang wanita yang selama ini ia cari.
Ia berdiri memantung pikirannya tidak saat ini tidak fokus. Yang ada di
pikirannya saat ini adalah wanita yang saat ini ada di hadapannya.
Mengapa
wanita yang dicari selama satu bulan ini ada dihadapannya saat ini. Apa ia tahu
bahwa Adrian bekerja disini. Jika tahu betapa bodohnya Adrian selama ini, jika
ia mengetahui keberadaan Adrian tapi Adrian sendiri tidak mengetahui keberadaan
wanita ini.
Apakah
ia bermimpi bertemu dengan wanita yang ada di hadapannya ini ?
Adrian
melangkahkan kakinya mendekati Lauren yang masih terkejut. Ia langsung memeluk
wanita itu, tanpa mengatakan apapun. Entahlah ia merindukan wanita yang saat
ini sedang diam terpaku melihat kehadirannya.
Sedikit
menegang Lauren merasakan pelukan dari lelaki yang kini memeluknya secara
tiba-tiba. Lauren kemudian mendorong tubuh Adrian,” apa yang anda lakukan ?”
tanya Lauren bingung.
“Kau
tidak mengenalku” jawab Adrian.
Sejujurnya
Lauren mengenal Adrian, tapi ia terlanjur marah pada Adrian karena telah
merebut kesuciannya.
“Tidak
aku, tidak mengenalmu” ujar Lauren. Lauren pergi begitu saja. Namun…
“Apa
benar kau tidak mengenalku? Kita sudah…”
“Tidak….
Tidak… aku tidak mengenalmu” Lauren menghempaskan tangan Adrian lalu pergi
begitu saja.
“Hei!”
teriak Adrian ia mengejar Lauren.
Grep
Adrian
mendapatkan wanita yang kini ada di hadapannya. Meski banyak pasang mata yang
menatap mereka tapi Adrian tidak peduli, yang saat ini ia pedulikan adalah
siapa nama wanita yang ada dihadapannya ini ?
Wanita
yang selalu membuat dirinya gelisah, bahkan Adrian selalu memikirkannya. Ia
sangat hafal wajah wanita yang ada dihadapannya itu, saat ia bergairah entah
mengapa jika ia memikirkan malam itu tubuhnya berdesir hangat. Ia seperti
tertarik pada wanita yang ada dihadapannya saat ini.
“Aku
hanya ingin tahu sapa namamu?” tanya Adrian.
Lauren
menggelengkan kepalanya,” jangan mengetahui namaku”.
“Aku
harus mengetahui siapa namamu?” Adrian menangkup wajah Lauren.
Lauren
melirik ke sekelilingnya di mana banyak pasang mata yang menatap mereka. “ Aku
Lauren” akhirnya Lauren menjawab pertanyaan Adrian ia tidak ingin banyak orang
yang mengetahui hubungannya dengan Adrian.
Cup
Adrian mengecup bibir Lauren, sungguh ia sudah
tidak tahan dengan bibir penuh milik wanita itu. Lauren yang terkejut langsung
membulatkan matanya, “ kamu apaan sih ?” menghempaskan tangan Adrian lalu pergi
meninggalkan laki-laki yang kini masih tersenyum penuh arti.
“Lauren”
lirih Adrian. “ Nama yang cantik” senyum Adrian.
****
Debaran
jantung Lauren tidak berhenti saat ia kembali bertemu dengan laki-laki yang
sudah menidurinya. Ia tidak habis pikir apa yang dilakukan laki-laki itu di
perusahaan ayahnya. Laki-laki itu bahkan seenaknya mencium Lauren kembali,
membuat wanita itu tidak habis pikir.
Seharusnya
ia pura-pura tidak mengenal laki-laki itu. Lauren memegang perutnya, ia tahu di
dalam sana ada kehidupan,” kau senang bisa bertemu dengan,ayahmu” senyum
Lauren. Tapi dibalik kebenciannya ia bahagia bisa bertemu dengan laki-laki itu.
Haruskah
ia memberitahu laki-laki itu bahwa ia sedang mengandung anaknya?
“Bodoh,
kenapa aku tidak bertanya siapa namanya. Bodoh. Bodoh” runtuk Lauren.
Cleck
Pintu
besar yang ada dihadapan Lauren terbuka, menampilkan sosok seorang lelaki paruh
baya, tegas, dan ulet.
“Baby” Lelaki itu merupakan ayah Lauren
langsung memeluk sang putri dengan erat. Ia merindukan buah hatinya, anaknya
kini sudah tumbuh dewasa. Ia tidak menyangka ia mampu merawat Lauren sampai
dewasa.
“Papa”
Lauren membalas pelukan Lauren.
“Kenapa
kau hanya diam saja disini, ehm?” tanya Farel, kepada sang buah hati.
“Hehehhe…
tadi hanya memikirkan sesuatu” cengir Lauren.
“Masuklah”
ajak sang Ayah. “ Felix! Tolong panggilkan Adrian ke ruanganku” seru Louise
kepada sekertarisnya.
****
“Bibirnya
manis” senyum Adrian di kursi kekuasaannya sambil bergumam.
Tok
Tok
Tok
“Maaf,
pak tapi Pak Farel memanggil bapak” ujar sekertaris Adrian.
Adrian
langsung membenarkan jasnya dengan rapi lalu keluar ruangan untuk bertemu dengan
atasannya. Adrian menampilkan senyumannya pada bawahannya yang membuat mereka
bertanya-tanya ada apa dengan atasannya.
Adrian
mengetuk pintu atasannya. “Masuk” suara yang menginstruksikan dirinya untuk
masuk.
Lagi,
Adrian terkejut dengan kehadiran sosok yang ada dihadapannya.
“Kamu…”

