Kamis, 30 Juli 2015

Me Gusta Tu - Chap 2




Tidak menyimak

Tidak mendengarkan

Tidak memperhatikan

Tidak menatap mereka yang sedang memberikan presentasi tentang kerjasama mereka.

Itulah yang saat ini Adrian lakukan. Tangannya sedang mencoret-coret sesuatu yang tidak jelas. Pikirannya pun tidak tertuju pada rapat yang sedang berlangsung. Ia hanya diam, dengan pikiran-pikiran yang melayang.

Masih tertuju dengan perempuan dengan rambut sebahu, mata bulat berwarna hitam dengan bibir merah, kulit yang mempesona. Membayangkan malam kebersamaan mereka. Malam pertemuan mereka yang berakhir di atas tempat tidur.

Memikirkan perempuan itu membuat sebagian tubuhnya merasa panas. Adrian sudah sebulan berlalu seharusnya kau melupakannya runtuknya dalam hati.

Helaan nafas keluar dari bibir Adrian. Ia merasa frustasi karena tidak mengetahui siapa perempuan itu, bodohnya ia tidak pernah bertanya siapa namanya.

Adrian tidak mudah jatuh cinta bahkan menyukai seorang wanita. Biasanya ia hanya melakukannya disaat ia membutuhkan pelampiasan nafsunya tidak lebih.

Yang membuat Adrian merasa bersama pada perempuan itu adalah ternyata ia masih perawan. Damn!! Hal yang selalu Adrian runtukki ketika ia bangun tidur dalam keadaan telanjang. Ia mencari sosok perempuan itu. Ketika ia menyadari bercak merah di tempat tidur, Adrian langsung tersadar bahwa orang yang semalam menemaninya adalah seorang yang belum pernah di jamah oleh siapapun.

Seharusnya ia bisa bertemu dengan perempuan itu. Tapi ia tidak mengetahui identitas apapun dari perempuan itu. Ini adalah hal gila, karena dia selalu di hantui rasa bersalah karena telah memerawani perempuan yang entah siapa namanya.

Tanpa Adrian ketahui ada sepasang mata di ujung sana memperhatikan gerak-geriknya.

****
Sementara itu, disebuah Apartement

Hoeekk

Hoeekk

Lauren memuntahkan makanan yang ia makan pagi ini di wastafel kamar mandi. Wajah perempuan itu pucat fasih. Ia menopang tubuhnya dengan kedua tangannya.

Craasshhh

Lauren membasuh wajah dan mulutnya. Kepalanya terasa mau pecah. Ia berjalan menuju tempat tidurnya dengan sempoyongan. Lalu ia merebahkan tubuhnya keatas tempat tidur. Sambil menutup matanya.

Tangannya mengelus perutnya. Ia akan mempertahankan anak ini apapun yang terjadi sekalipun Ayahnya menyuruhnya mengugurkannya. Lauren sudah memiliki keyakinan untuk menjaga anaknya.
“Kita akan berjuang bersama, ehm?” senyum Lauren.

Tiba-tiba telponnya berdering. Lauren melirih nama yang tertera ‘My Dad’. Lauren langsung terlonjak duduk di pinggiran tempat tidur.

“Halo, Dad

“….”

“Eum, aku sedang berada di Apartement

“…”

“Baik, dad. Aku akan ke sana dan bertemu dengan Daddy.

“…”

“Yah” Lauren langsung bergegas mengganti pakaiannya. Ia akan bertemu dengan Ayahnya. Sudah satu bulan ia tidak bertemu dengan ayahnya. Betapa rindunya hati Lauren pada sang Ayah. Ayahnya akan menghubunginya jika ia berada di Jakarta. Dan Lauren akan segera mengunjungi sang Ayah.

Baby, hari ini kita akan mengunjungi Opa, ehm” Lauren mengelus perutnya dengan lembut.

Ia bergegas untuk mengganti pakaiannya dan pergi meninggalkan apartemen.

****
Lauren melangkahkan kakinya masuk kesebuah perusahaan milik Ayahnya. Senyuman terukir di bibirnya merahnya. Banyak karyawan yang memberikan senyuman kepada anak pemilik perusahaan itu.

Lauren masuk ke dalam lift banyak pasang mata yang meriliknya. Namun Lauren seperti biasa hanya tersenyum tanpa mengalihkan padangannya menatap ke depan ketika pintu lift tertutup.

Ting

Pintu lift  terbuka. Lauren keluar dari dalam lift  menuju ruangan ayahnya. Namun seketika langkahnya berhenti saat ia melihat seseorang yang sangat ia kenal.

“Kamu…” ujar mereka serempak.

Sementara itu Adrian mematung saat ia mengetahui seorang wanita yang selama ini ia cari. Ia berdiri memantung pikirannya tidak saat ini tidak fokus. Yang ada di pikirannya saat ini adalah wanita yang saat ini ada di hadapannya.

Mengapa wanita yang dicari selama satu bulan ini ada dihadapannya saat ini. Apa ia tahu bahwa Adrian bekerja disini. Jika tahu betapa bodohnya Adrian selama ini, jika ia mengetahui keberadaan Adrian tapi Adrian sendiri tidak mengetahui keberadaan wanita ini.

Apakah ia bermimpi bertemu dengan wanita yang ada di hadapannya ini ?

Adrian melangkahkan kakinya mendekati Lauren yang masih terkejut. Ia langsung memeluk wanita itu, tanpa mengatakan apapun. Entahlah ia merindukan wanita yang saat ini sedang diam terpaku melihat kehadirannya.
Sedikit menegang Lauren merasakan pelukan dari lelaki yang kini memeluknya secara tiba-tiba. Lauren kemudian mendorong tubuh Adrian,” apa yang anda lakukan ?” tanya Lauren bingung.

“Kau tidak mengenalku” jawab Adrian.

Sejujurnya Lauren mengenal Adrian, tapi ia terlanjur marah pada Adrian karena telah merebut kesuciannya.

“Tidak aku, tidak mengenalmu” ujar Lauren. Lauren pergi begitu saja. Namun…

“Apa benar kau tidak mengenalku? Kita sudah…”

“Tidak…. Tidak… aku tidak mengenalmu” Lauren menghempaskan tangan Adrian lalu pergi begitu saja.

“Hei!” teriak Adrian ia mengejar Lauren.

Grep

Adrian mendapatkan wanita yang kini ada di hadapannya. Meski banyak pasang mata yang menatap mereka tapi Adrian tidak peduli, yang saat ini ia pedulikan adalah siapa nama wanita yang ada dihadapannya ini ?

Wanita yang selalu membuat dirinya gelisah, bahkan Adrian selalu memikirkannya. Ia sangat hafal wajah wanita yang ada dihadapannya itu, saat ia bergairah entah mengapa jika ia memikirkan malam itu tubuhnya berdesir hangat. Ia seperti tertarik pada wanita yang ada dihadapannya saat ini.

“Aku hanya ingin tahu sapa namamu?” tanya Adrian.

Lauren menggelengkan kepalanya,” jangan mengetahui namaku”.

“Aku harus mengetahui siapa namamu?” Adrian menangkup wajah Lauren.

Lauren melirik ke sekelilingnya di mana banyak pasang mata yang menatap mereka. “ Aku Lauren” akhirnya Lauren menjawab pertanyaan Adrian ia tidak ingin banyak orang yang mengetahui hubungannya dengan Adrian.

Cup

 Adrian mengecup bibir Lauren, sungguh ia sudah tidak tahan dengan bibir penuh milik wanita itu. Lauren yang terkejut langsung membulatkan matanya, “ kamu apaan sih ?” menghempaskan tangan Adrian lalu pergi meninggalkan laki-laki yang kini masih tersenyum penuh arti.

“Lauren” lirih Adrian. “ Nama yang cantik” senyum Adrian.

****
Debaran jantung Lauren tidak berhenti saat ia kembali bertemu dengan laki-laki yang sudah menidurinya. Ia tidak habis pikir apa yang dilakukan laki-laki itu di perusahaan ayahnya. Laki-laki itu bahkan seenaknya mencium Lauren kembali, membuat wanita itu tidak habis pikir.

Seharusnya ia pura-pura tidak mengenal laki-laki itu. Lauren memegang perutnya, ia tahu di dalam sana ada kehidupan,” kau senang bisa bertemu dengan,ayahmu” senyum Lauren. Tapi dibalik kebenciannya ia bahagia bisa bertemu dengan laki-laki itu.
Haruskah ia memberitahu laki-laki itu bahwa ia sedang mengandung anaknya?

“Bodoh, kenapa aku tidak bertanya siapa namanya. Bodoh. Bodoh” runtuk Lauren.

Cleck

Pintu besar yang ada dihadapan Lauren terbuka, menampilkan sosok seorang lelaki paruh baya, tegas, dan ulet.

Baby” Lelaki itu merupakan ayah Lauren langsung memeluk sang putri dengan erat. Ia merindukan buah hatinya, anaknya kini sudah tumbuh dewasa. Ia tidak menyangka ia mampu merawat Lauren sampai dewasa.

“Papa” Lauren membalas pelukan Lauren.

“Kenapa kau hanya diam saja disini, ehm?” tanya Farel, kepada sang buah hati.

“Hehehhe… tadi hanya memikirkan sesuatu” cengir Lauren.

“Masuklah” ajak sang Ayah. “ Felix! Tolong panggilkan Adrian ke ruanganku” seru Louise kepada sekertarisnya.

****
“Bibirnya manis” senyum Adrian di kursi kekuasaannya sambil bergumam.

Tok

Tok

Tok

“Maaf, pak tapi Pak Farel memanggil bapak” ujar sekertaris Adrian.

Adrian langsung membenarkan jasnya dengan rapi lalu keluar ruangan untuk bertemu dengan atasannya. Adrian menampilkan senyumannya pada bawahannya yang membuat mereka bertanya-tanya ada apa dengan atasannya.

Adrian mengetuk pintu atasannya. “Masuk” suara yang menginstruksikan dirinya untuk masuk.

Lagi, Adrian terkejut dengan kehadiran sosok yang ada dihadapannya.

“Kamu…”






Tidak ada komentar:

Posting Komentar