Mendengar pernyataan dokter Lauren langsung menegang.
Beberapa minggu ini, ia merasakan sesuatu yang salah pada dirinya. Pada pagi
hari ia merasakan mual yang hebat, kepalanya sering berdenyut sakit ketika pagi
menjelang. Hari ini ia memberanikan diri untuk memeriksakan kesehatannya. Siapa
sangka jika dokter umum menyarankan untuk mengecek kesehatan ke dokter
kandungan.
Tangannya
bergetar saat mendengar pernyataan dari dokter ber-name tag Julia. Dengan senyuman hangatnya dokter itu mengakatan
bahwa ia hamil.
Reflek
Lauren memegang perutnya yang masih terlihat datar. Ia tidak menyangka kejadia
satu bulan yang lalu akan menjadikannya seorang ibu. Kejadian yang tidak pernah
terduga olehnya. Itulah pikiran Lauren.
“Selamat
Nona” Julia masih tersenyum, ia memasukan beberapa hasil cek-up laboratorium milik Lauren.
“A-aku
hamil” lirih Lauren.
“Yah,
dari hasil pemeriksaan anda positif hamil, Nona” Julia menatap Lauren melihat
perubahan sikap dari Lauren.
“Kenapa
?” tanya Julia kembali.
“Tidak
apa-apa” Lauren menggelengkan kepala. Kemudian ia tersenyum pada Julia.
“Kau
harus menjaga kesehatanmu. Karena sekarang kau memiliki seseorang dalam dirimu”
Lauren hanya menganggukkan kepala. Ia masih shock
dengan apa yang terjadi.
“Yah,
aku harus menjaganya” sedih Lauren.
****
Sampai
Apartement Lauren hanya duduk
termenung. Pandangannya kosong. Bagaimana bisa ia hamil bahkan tanpa seorang
suami. Ia memikirkan kemungkinan ayahnya akan marah besar kepadanya.
Lauren
Adytama, anak satu-satunya dari keluarga Adytama Grup. Perusahaan terbesar
dalam dunia hiburan . Ayahnya memiliki beberapa perusahana pertelevisian,
majalah, agensi artis, dan Koran. Perusahaan yang berpengaruh di Indonesia,
memiliki perekonomian stabil sepanjang tahun. Ayahnya merupakan pemegang saham
terbesar sekaligus Presiden Direktur.
Ia
tidak tahu apa yang harus ia katakan pada ayahnya. Jika ia hamil. Mungkinkah
ayahnya akan marah besar. Apalagi ia masih berada di bangku kuliah, semester 5
di perguruan tinggi terkenal di Indonesia.
Dia
pasti memalukan nama sang ayah. Bahwa putri dari Adytama grup telah hamil di
luar nikah. Membayangkannya saja membuat Lauren ingin menangis. Lauren memang
tinggal di Apartement karena sang
Ayah yang selalu keluar negeri untuk berbisnis.
Semenjak
ibunya meninggal 10 tahun yang lalu, ayahnya selalu menyibukkan diri dengan
pekerjaan. Hingga Lauren terlupakan. Saat ia menginjakan bangku kuliah Lauren
memutuskan untuk keluar dari rumah, alasannya adalah ia ingin mandiri tanpa
harus membebankan ayahnya. Tapi nyatanya kini bukannya sukses Lauren akan
membawa beban ke ayahnya.
“Apa
yang harus aku lakukan?”lirih Lauren.
Kejadian
sebulan lalu, ia menghadiri pesta ulang tahun temannya di sebuah club terkenal di Jakarta. Ia memang
tidak tahu jika salah seorang temannya menyerahkan sebuah minuman yang
membuatnya sakit kepala hebat bahkan tak sadarikan diri.
Paginya
ketika ia bangun ia sudah berada di sebuah hotel tidur dengan seorang
laki-laki. Dengan keadaan seluruh tubuhnya tertutup oleh selimut. Lauren
melihat pakaiannya dan pria yang tidur di sebelahnya berantakan di lantai. Lauren
ingat mata lelaki itu. Mata berwarna abu-abu. Pria tampan yang membuat Lauren
bingung akan mencari kemana ayah dari bayinya ini.
Ia
bahkan tidak tahu nama pria itu. Bodohnya, ketika ia bangun Lauren langsung
pergi meninggalkan pria itu. Tanpa bertanya siapa namanya? Bahkan meminta nomer
telpon atau apapun agar pria itu bisa bertanggung jawab.
“Aku
tidak mungkin mengugurkanmu” Lauren mengusap perutnya.
“Dulu
mama tidak mampu memberikanku seorang adik, karena kanker itu. Aku tidak bisa
menghilangkanmu”. Ibu Lauren dulu memang tidak bisa memberikan Lauren seorang
adik karena penyakit kanker yang mengakibatkan pengangkatan rahim sang ibu.
Lauren pernah menangis pada saat taman kanak-kanak ia meminta seorang adik
kepada ibunya tapi ibunya hanya menjawab dengan senyuman. Lalu saat ia
menginjakan kaki di SD ia mulai mengerti bahwa ibunya tidak mampu memberikan
seorang adik, sampai akhirnya ibunya meninggal karena komplikasi penyakit lain.
“Apapun
yang terjadi jika aku mengatakan semuanya pada ayah, aku akan memperjuangkanmu”
Ujar Lauren mantap.
“Tidak
ada seorang pun yang akan memisahkanmu dan aku” Lauren meneteskan airmatanya.
“Maafkan aku karena aku tidak tahu siapa nama ayahmu” lirih Lauren menangis
kencang sambil mengelus perutnya.
“Maaf”
****
“APA
YANG KAU LAKUKAN?” Marah seorang pria yang kini duduk di bangku kerjanya. Ia
berteriak pada salah satu karyawannya. Entahlah sudah satu bulan ini ia selalu
marah dan berteriak pada setiap karyawannya.
Adrian
Alexander Winata tampan, arogan, dingin dan pintar. Menjabat sebagai Manager
disalah satu perusahaan advertising
di Jakarta. Memiliki perawakan yang menawan bak model. Mata yang berwarna
abu-abu, dan wajah yang tampan. Memiliki ketegasan dan keuletan dalam bekerja.
“ULANGI!!
Aku tidak mau terjadi kesalahan ketika KAU memberikan laporan ini kembali
padaku” ujarnya penuh penekanan dan kata-kata yang tegas.
“B-baik,
pak” ujar Karyawan itu takut-takut pada Adrian.
Setelah
karyawannya pergi. Adrian menyandarkan tubuhnya ke kursinya. Lalu memijat
pangkal hidungnya. Beberapa hari ini perasaannya tidak karuan. Ia selalu ingin
marah kepada siapapun. Adrian memijat pelipisnya.
“Lama-lama
aku bisa gila” seru Adrian.
Adrian
memutar kursinya ke belakang dimana terdapat pemandangan gedung-gedung pencakar
langit dan terlihat dari ruangannya kesibukan kota Jakarta yang tidak pernah
lelah dengan banyaknya kendaraan.
Tiba-tiba
Adrian menerawang tentang kejadian sebulan yang lalu, dimana ia menyelamatkan
seorang perempuan mabuk yang akan di perkosa oleh seseorang saat ia berada di club tempat favoritnya.
Tapi
siapa sangka jika ia mengakhirinya di sebuah kamar hotel dan’melakukannya’
dengannya. Ketika ia bangun di pagi hari sosok yang berada disampingnya sudah
tidak ada. Ia berpikir itu semua adalah mimpi tapi nyatanya perempuan itu
meninggalkan sebuah pakaiannya.
Bagaimana
jika gadis itu hamil? Apa ia akan mencarinya? Apa gadis itu kenal olehnya.
Tidak mungkin gadis itu mengenalnya karena ia sama sekali tidak meninggalkan
nomer telpon atau apapun. Bagaimana mungkin ia meninggalkannya begitu saja?
Adrian bahkan belum sempat menanyakan namanya siapa? Bagaimana ia mau mencari
tahu siapa perempuan itu jika nama saja tidak tahu ?
Sejak
kejadian itu Adrian selalu datang ke club
itu berharap ia bisa menemukan perempuan itu. Tapi nyatanya ia tidak pernah
bertemu lagi dengannya. Itu yang membuat mood
Adrian sering kacau beberapa minggu ini. Andai ia tahu nama perempuan itu pasti
ia akan mencari tahu siapa dia?
Adrian
ingat bagaimana kulit halus dan putih perempuan itu. Rambut yang panjang
sepunggung. Bibir merah dan mata bulat yang hitam. Memiliki tubuh yang ideal.
Entahlah, Adrian merasa tertarik dengan perempuan itu. Baru kali ini ia sangat
tertarik dengan perempuan. Biasanya ia hanya melakukannya sesuai dengan
kebutuhannya. Tapi kali ini, sosok itu membuatnya merindukan sosok itu.
“Ini
sudah sebulan dan aku belum bisa melupakanmu” gumam Adrian.
Tok…tok..
Sekertarsi
Adrian masuk keruangan, “maaf Pak, tapi Bapak sudah di tunggu sama Pak
Seto”
“Yah,
saya akan ke sana” Adrian berdiri yang membenarkan jasnya.
Dengan
langkah mantap ia membuang pikiran-pikiran tentang perempuan yang selalu menjadi
bayangannya sejak kejadian satu bulan itu.
‘ Aku akan mencarimu’
batin Adrian sebelum membuka pintu ruang rapat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar