Sabtu, 01 Agustus 2015

Love - Chap 1



Pagi nan indah burung-burung berkicau dengan merdu. Aku melangkah menyusuri pagi nan indah itu. “ Pagi yang indah, Bi “ jawabku. Matahari yang mengintip di balik jendelaku. “ Hm, pagi dunia !!” dalam hatiku. Aku bergegas untuk memakai seragam berwarna putih dan abu-abu. Aku baru ingat hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah. Tak kusangka aku sudah kelas 2 SMA. Sebentar lagi bakalan kelas 3 SMA dan sebentar lagi aku akan lulus, batinku berkata seperti itu.
            “ Sarapannya sudah siap, Non, “ kata bibiku.
            “ Sebentar aku akan ke bawah, Bi .“.
            Sambil meniup rambutku yang berponi di depan, “ Aku siap,“ kataku dengan tegas dan penuh semangat. Dengan buru-buru aku melahap semua makanan yang ada di meja makan.
            “ Pelan-pelan, Sayang. “.
            “ Ini udah pelan-pelan, Teh .“
            “ Semangat amat sih kayaknya. “
            “ Iya dunk, bentar lagi kan aku mau 17 tahun, “ aku tertawa.
            “ Hari ini….” Gabriel belum sempat berbicara aku sudah memotongnya.
            “ Hari ini Cha-cha naik angkot aja, Teh, “ kataku dengan cepat. “ Cha-cha pergi dulu ya, Teh, “ sambil mencium kedua pipi Kak Gabriela.
            Sesampai di sekolah, aku menyapa teman-temanku. Sekarang aku telah duduk di kelas 2 SMA, tepatnya aku masuk di jurusan IPA. Tapi IPA paling terakhir yaitu IPA 2. Jadi, aku sekarang kelas 2 IPA . Senang sih, bisa masuk di kelas IPA. Karena banyak orang-orang yang takut dengan kata-kata IPA tapi sebenarnya menurutku itu adalah sebuat tantangan buat aku.
            “ Cha…,” kata seorang temanku yang menyapaku.
            “ Raisha, kamu masuk kelas ini juga ya ?!!”aku menyapa Raisha.
            Raisha itu adalah teman aku dari SMP, sampai sekarang pun aku masih bertemanan dengan dia. Dia sudah aku anggap seperti saudara aku sendiri. Meski terkadang dia keras kepala atau suka berontak. Tapi dibalik itu semua dia anaknya seru kok.
            “ Berarti kita satu kelas donk ?!”
            “ Iya, kamu duduk sama siapa ?”.
            “ Mega. “
            “ Aku duduk di belakang kamu aja deh, biar kita bisa bergosip “.
            Aku hanya tersenyum kecil. Itu baru hanya segelintir teman-temanku. Aku juga sekelas dengan teman-temanku dari kelas 1 yaitu, Daela, Mitha, Arga, dan Denis. Ternyata seru juga punya teman-teman yang kumpul dalam satu kelas.
            “ Baik, hari ini adalah hari pertama kalian masuk sekolah,“ kata wali kelas kami.
            “ Hari yang indah ya ?” kata Mega.
            “ Ya, begitulah. “
            Wali kelas kami adalah seorang guru kimia yang sangat di segani oleh para siswa-siswi di sekolah kami. Dia menceritakan dan mengucapkan selamat datang di kelas IPA 2, juga menjelaskan tentang peraturan-peraturan yang ada di kelas kami.
            “ Bukan begitu, Cha-cha “ kata guruku sambil melontarkan senyuman secara tiba-tiba.
            Aku hanya bisa tersenyum kecil. Hatiku berkata,” Apa maksudnya senyumannya itu ? ehhmmm, nggak usah dipikirkan”.
            “ Baiklah, apakah kalian mengenal teman-teman kalian?“ tanya guruk kimia-ku lagi.
            “ Kalo Cha-cha aku udah tau,“ ujar Mega tiba-tiba. Hanya aku balas dengan senyuman.
            Kami pun berkenalan satu sama yang lain. Aku berkenalan pada satu orang laki-laki yang bernama Dimas. Cowok aneh yang pernah aku temui. Cowok yang asik dengan dunianya sendiri, yang suka bermain sendiri, suka mengganggu teman-teman yang lain dan lain-lain.
            Sementara dirumah Gabriela sedang sibuk membersihkan kamarku dengan Bibi. Tiba-tiba Gabriela tak sengaja menjatuhkan buku harianku. Gabriela Pun membuka buku harian tersebut.
            “ Kapan bisa seperti mereka memiliki orang tua di sayang sanak saudara ? Kapan aku seperti mereka bisa di elus-elus rambutku seperti mereka ? Kapan aku bisa berhenti meminum obat-obatan seperti ini? Sebenarnya aku sakit apa ? Tuhan, tolong bantu aku untuk menjawab semuanya. Aku telah lelah dengan semua ini. Lebih baik aku tidak punya dari pada aku punya tapi keadaan keluargaku seperti ini. Pengen ngerasain kasih sayang mama sama papa. Tapi kapan ? “
            Gabriela yang membaca buku harian tersebut spontan menangis. Bibi pun bingung melihat Gabriela menangis, “ Non, kenapa menangis ?” kata bibi
            “ Tidak apa-apa, Bi. Tiba-tiba saya kangen sama Cha-cha,” Gabriela menghapus airmatanya.
            “ Dia akan baik-baik saja, Non “.
            “ Semoga ,“ lirih Gabriela yang tidak terdegar oleh Bibi.
            Di sekolah aku sedang asik berkeliling sekolah. Menyapa guru-guru dan teman-teman, berjalan di lorong-lorong sekolah sambil melihat keadaan kelas lain. Tiba-tiba kakiku berhenti ketika ada seseorang yang memanggil aku dari belakang. Dengan cepat aku berbalik ke belakang ternyata yang memanggil aku adalah Mitha.
            “ Kenapa, Mit ?”Aku tersenyum.
            “ Kamu mau kemana ?”
            “ Aku mau keliling-keling aja, bosen di kelas paling juga masih kenalan kan ?”
            “ Aku ikut yah ?”
            “ Iya,” jawabku tersenyum.
            Aku dan Mitha pun berjalan mengelilingi lorong-lorong. Kemudian aku memperhatikan seseorang dari kejauhan. Seorang laki-laki yang dulu aku suka, namun sekarang aku telah menganggap dia sebagai teman saja. Saat melewati depan kelasnya, tanpa sengaja mata kami pun bertemu, lalu….
            “ Cha, apa kabar ?” kata Sandy. Namanya adalah Sandy, dulu dia sekelas dengan aku. Dulu waktu kelas satu SMA kami digosipkan sedang pacaran. Tapi sebenarnya tidak sama sekali.
            “ Alhamdulilah baik, ” Aku tersenyum kecil.
            “ Kamu mau kemana, Cha ?”
            “ Mau ke kelas. Permisi “ jawabku meninggalkan dia.
            Sandy yang aku kenal sekarang sama seperti yang aku kenal kelas satu yang lalu. Tetap lugu dan polos. Kenapa aku bisa suka orang seperti dia? Hari pertama saja sudah bertemu dengan dia. Bagaimana hari-hari berikutnya?.
            Setelah aku sampai di kelas, tiba-tiba seseorang cowok aneh di kelasku menemui aku. . “ Emmm, hai!” katanya sambil mengulurkan tangan. Sementara aku terdiam memperhatikan dirinya. Kemudian dia berkata lagi,” Kenapa bengong melihatku ?” Lalu aku tersenyum. “ Hai, Dimas,” katanya lagi.
            “ Cha-cha,” jawabku sambil duduk di tempat dudukku.
            “Ok, “ jawabnya.
            Tiba-tiba dari arah belakang, “ Darimana aja, Cha ?” kata Raisha.
            “Dari muter-muter,” jawabku singkat.
            “ Tadi pemilihan ketua kelas loh. Yang jadi ketuanya Dimas, aku jadi sekertarisnya. Terus yang jadi bendahara Lila. Huff, nggak akan percaya aku ?” jelasnya.
            “ Lah, emang kenapa ?”
            “ Ntar kamu tau sendiri kok “.
Dan jika pada saat itu aku memahami dirimu mengetahui tentang waktu aku bertemu dengan dirimu. Dirimu, telah masuk didalam kehidupanku menjadi bagian dari diriku. Dan aku nggak pernah menyesal pernah bertemu dan berkenalan pertama kali dengan dirimu. Ingin mengulang waktu itu, namun tidak bisa karena aku lemah dengan waktu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar