Pagi
nan indah burung-burung berkicau dengan merdu. Aku melangkah menyusuri pagi nan
indah itu. “ Pagi yang indah, Bi “ jawabku. Matahari yang mengintip di balik
jendelaku. “ Hm, pagi dunia !!” dalam hatiku. Aku bergegas untuk memakai
seragam berwarna putih dan abu-abu. Aku baru ingat hari ini adalah hari pertamaku
masuk sekolah. Tak kusangka aku sudah kelas 2 SMA. Sebentar lagi bakalan kelas
3 SMA dan sebentar lagi aku akan lulus, batinku berkata seperti itu.
“ Sarapannya sudah siap, Non, “ kata
bibiku.
“ Sebentar aku akan ke bawah, Bi .“.
Sambil meniup rambutku yang berponi
di depan, “ Aku siap,“ kataku dengan tegas dan penuh semangat. Dengan buru-buru
aku melahap semua makanan yang ada di meja makan.
“ Pelan-pelan, Sayang. “.
“ Ini udah pelan-pelan, Teh .“
“ Semangat amat sih kayaknya. “
“ Iya dunk, bentar lagi kan aku mau
17 tahun, “ aku
tertawa.
“ Hari ini….” Gabriel belum sempat
berbicara aku sudah memotongnya.
“ Hari ini Cha-cha naik angkot aja, Teh,
“ kataku dengan cepat. “ Cha-cha pergi dulu ya, Teh, “ sambil mencium kedua
pipi Kak Gabriela.
Sesampai di sekolah, aku menyapa
teman-temanku. Sekarang aku telah duduk di kelas 2 SMA, tepatnya aku masuk di
jurusan IPA. Tapi IPA paling terakhir yaitu IPA 2. Jadi, aku sekarang kelas 2
IPA . Senang sih, bisa masuk di kelas IPA. Karena banyak orang-orang yang takut
dengan kata-kata IPA tapi sebenarnya menurutku itu adalah sebuat tantangan buat
aku.
“ Cha…,” kata seorang temanku yang
menyapaku.
“ Raisha, kamu masuk kelas ini juga
ya ?!!”aku menyapa Raisha.
Raisha itu adalah teman aku dari
SMP, sampai sekarang pun aku masih bertemanan dengan dia. Dia sudah aku anggap
seperti saudara aku sendiri. Meski terkadang dia keras kepala atau suka
berontak. Tapi dibalik itu semua dia anaknya seru kok.
“ Berarti kita satu kelas donk ?!”
“ Iya, kamu duduk sama siapa ?”.
“ Mega. “
“ Aku duduk di belakang kamu aja deh,
biar kita bisa bergosip “.
Aku hanya tersenyum kecil. Itu baru
hanya segelintir teman-temanku. Aku juga sekelas dengan teman-temanku dari
kelas 1 yaitu, Daela, Mitha, Arga, dan Denis. Ternyata seru juga punya
teman-teman yang kumpul dalam satu kelas.
“ Baik, hari ini adalah hari pertama
kalian masuk sekolah,“ kata wali kelas kami.
“ Hari yang indah ya ?” kata Mega.
“ Ya, begitulah. “
Wali kelas kami adalah seorang guru
kimia yang sangat di segani oleh para siswa-siswi di sekolah kami. Dia
menceritakan dan mengucapkan selamat datang di kelas IPA 2, juga menjelaskan
tentang peraturan-peraturan yang ada di kelas kami.
“ Bukan begitu, Cha-cha “ kata guruku sambil melontarkan senyuman secara
tiba-tiba.
Aku hanya bisa tersenyum kecil.
Hatiku berkata,” Apa maksudnya senyumannya itu ? ehhmmm, nggak usah
dipikirkan”.
“ Baiklah, apakah kalian mengenal
teman-teman kalian?“ tanya guruk
kimia-ku lagi.
“ Kalo Cha-cha aku udah tau,“ ujar Mega tiba-tiba. Hanya aku balas dengan senyuman.
Kami
pun berkenalan satu sama yang lain. Aku berkenalan pada satu orang laki-laki
yang bernama Dimas. Cowok aneh yang pernah aku temui. Cowok yang asik dengan
dunianya sendiri, yang suka bermain sendiri, suka mengganggu teman-teman yang
lain dan lain-lain.
Sementara dirumah Gabriela sedang
sibuk membersihkan kamarku dengan Bibi. Tiba-tiba Gabriela tak sengaja
menjatuhkan buku harianku. Gabriela Pun membuka buku harian tersebut.
“ Kapan bisa seperti mereka memiliki orang
tua di sayang sanak saudara ? Kapan aku seperti mereka bisa di elus-elus
rambutku seperti mereka ? Kapan aku bisa berhenti meminum obat-obatan seperti
ini? Sebenarnya aku sakit apa ? Tuhan, tolong bantu aku untuk menjawab
semuanya. Aku telah lelah dengan semua ini. Lebih baik aku tidak punya dari
pada aku punya tapi keadaan keluargaku seperti ini. Pengen ngerasain kasih
sayang mama sama papa. Tapi kapan ? “
Gabriela yang membaca buku harian
tersebut spontan menangis. Bibi pun bingung melihat Gabriela menangis, “ Non,
kenapa menangis ?” kata bibi
“ Tidak apa-apa, Bi. Tiba-tiba saya
kangen sama Cha-cha,” Gabriela
menghapus airmatanya.
“ Dia akan baik-baik saja, Non “.
“ Semoga ,“ lirih Gabriela yang tidak terdegar oleh Bibi.
Di sekolah aku sedang asik
berkeliling sekolah. Menyapa guru-guru dan teman-teman, berjalan di lorong-lorong
sekolah sambil melihat keadaan kelas lain. Tiba-tiba kakiku berhenti ketika ada
seseorang yang memanggil aku dari belakang. Dengan cepat aku berbalik ke
belakang ternyata yang memanggil aku adalah Mitha.
“ Kenapa, Mit ?”Aku tersenyum.
“ Kamu mau kemana ?”
“ Aku mau keliling-keling aja, bosen
di kelas paling juga masih kenalan kan ?”
“ Aku ikut yah ?”
“ Iya,” jawabku tersenyum.
Aku dan Mitha pun berjalan
mengelilingi lorong-lorong. Kemudian aku memperhatikan seseorang dari kejauhan.
Seorang laki-laki yang dulu aku suka, namun sekarang aku telah menganggap dia
sebagai teman saja. Saat melewati depan kelasnya, tanpa sengaja mata kami pun
bertemu, lalu….
“ Cha, apa kabar ?” kata Sandy. Namanya
adalah Sandy, dulu dia sekelas dengan aku. Dulu waktu kelas satu SMA kami digosipkan
sedang pacaran. Tapi sebenarnya tidak sama sekali.
“ Alhamdulilah baik, ” Aku tersenyum kecil.
“ Kamu mau kemana, Cha ?”
“ Mau ke kelas. Permisi “ jawabku
meninggalkan dia.
Sandy yang aku kenal sekarang sama
seperti yang aku kenal kelas satu yang lalu. Tetap lugu dan polos. Kenapa aku
bisa suka orang seperti dia? Hari pertama saja sudah bertemu dengan dia.
Bagaimana hari-hari berikutnya?.
Setelah aku sampai di kelas,
tiba-tiba seseorang cowok aneh di kelasku menemui aku. . “ Emmm, hai!” katanya sambil mengulurkan tangan.
Sementara aku terdiam memperhatikan dirinya. Kemudian dia berkata lagi,” Kenapa
bengong melihatku ?” Lalu aku tersenyum. “ Hai, Dimas,” katanya lagi.
“ Cha-cha,” jawabku sambil duduk di
tempat dudukku.
“Ok, “ jawabnya.
Tiba-tiba dari arah belakang, “ Darimana
aja, Cha ?” kata Raisha.
“Dari muter-muter,” jawabku singkat.
“ Tadi pemilihan ketua kelas loh.
Yang jadi ketuanya Dimas, aku jadi sekertarisnya. Terus yang jadi bendahara
Lila. Huff, nggak akan percaya aku ?” jelasnya.
“ Lah, emang kenapa ?”
“ Ntar kamu tau sendiri kok “.
Dan jika pada saat itu aku memahami
dirimu mengetahui tentang waktu aku bertemu dengan dirimu. Dirimu, telah masuk
didalam kehidupanku menjadi bagian dari diriku. Dan aku nggak pernah menyesal
pernah bertemu dan berkenalan pertama kali dengan dirimu. Ingin mengulang waktu
itu, namun tidak bisa karena aku lemah dengan waktu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar