Tidak ada yang bisa aku lakukan saat ini, hanya bisa termenung dalam bayangannya.
Selamanya dia tidak pernah memiliki, walaupun aku berusaha sangat keras untuk bisa memperjuangkan pernikahan ini. Pada akhirnya aku yang mengalah.
Aku hanya menatap pasangan kosong yang ada di hadapanku. Televisi tang menyala menampilkan siaran yang tidak aku perhatikan sama sekali.
Aku hanya memikirkan bagaimana nasibku hingga hari ini. Bersama dengan nyawa yang ada di dalam perutku.
Aku, Raniya Abimayu. Keturunan dari keluarga Abimayu yang menikah secara paksa oleh seorang pengusaha muda bernama Fabian.
Perjalanan cinta yang cukup rumit, sehingga membuatku tak mampu untuk menang.
Aku mengalah untuk ia yang pergi meninggalkan ku bukan dia yang meninggalkan ku lebih tepatnya aku yang meninggalkannya.
Aku tidak pernah menyesal bisa bertemu denganmu, Fab. Batinku yang selalu meyakinkanku dengan segala keyakinan yang aku ucapkan.
"Nia..." seseorang menegurnya dari arah belakang. Aku menoleh dan tersenyum dia adalah Raka Abimayu. Kakakku, dia adalah seorang yang sangat aku hormati setelah kakek.
" Apa yang kau lakukan sayang?" Ucap Kak Reza khawatir.
Sejak peristiwa itu Kak Reza selalu menanyakan keadaanku. Ia bahkan selalu menceritakan apapun padaku. Mungkin ia pikir agar aku melupakan lelaki yang sudah meninggalkan luka yang dalam.
" Tidak ada" gumamku dengan suara kecil dan parau.
Ia menunduk dan mensejajarkan dirinya di hadapanku. Dan mengusap kedua pipiku.
" Kau tahu aku menyayangi. Kau adalah adikku, Nia " senyum Kak Reza membuatku meneteskan airmata.
" Aku merindukannya" lirihku dengan suara yang sangat kecil.
" Ingat, aku bukan tidak mau kau mengingat dia yang akan menyakiti dirimu dengan calon bayimu" katanya dengan wajah mengeras saat aku mengatakan aku merindukannya.
" Kak, ini semua..."
" Tidak!! Aku tidak akan mempertemukanmu dengan dia. Apapun yang terjadi dia pantas mendapatkannya, Nia" marahnya yang membuatku terkejut.
Ia berdiri lalu melangkah pergi. Sebelum benar benar pergi meninggalkanku, ia berbalik dan berkata," Aku dan Kakek tidak akan mengizinkan dia datang dalam kehidupanmu. Hingga ia merasakan bagaimana kehilangan orang yang sangat berarti baginya" seketika airmataku menetes.
Bagaimana mungkin, aku merindukannya. Sungguh. Merindukan ayah dari bayi yang aku kandung.
Ini adalah awal dari kisahku. Kisah yang tidak pernah kalian ketahui kisah cinta dan pengorbanan tentang cinta.
***
Fabian hanya bisa memijat pelipisnya. Ada rasa sakit, berulang kali ia menghela nafas panjang tiada hentinya.
Memandang gedung- gedung tinggi dari jendela ruang kerjanya.
Ada guratan penyesalan dari wajahnya.
Dua bulan yang lalu ia sudah melakukan kesalahan. Membuat dirinya merasa bodoh dan dungu.
Tanpa ia sadari, ia menyakiti seseorang yang begitu tulus kepadanya.
Seharusnya ia mengutuk dirinya sendiri karena ia adalah dalang dari semua penyebab dari segala masalah yang terjadi dalam kehidupannya.
Ia selalu menyalahkan seseorang yang sudah mengusik ketenangannya padahal jelas sekali orang itu tidak pernah mengusiknya.
Senyuman itu.
Saat ia menyakiti wanita itu, ia hanya tersenyum dengan lembut walaupun Bian tahu ada kesedihan yang tersimpan dari senyuman itu.
Tapi ia tidak mempedulikannya. Ia hanya asik dengan kesenangannya. Dengan segala perjanjian yang ia buat. Tanpa tahu bahwa wanita itu adalah pengaruh terbesar yang sudah memporak porandakan pikiran dan hatinya.
Bukan Lucia yang selama ini merupakan kekasihnya.
" Nia, kau dimana ?" Fabian menenggelamkan kepalanya di kedua tangannya yang terlipat diatas meja kerjanya.
Kenapa ?
Kenapa baru sekarang kau menyadari, Fabian. Bahwa Nia sangat berarti dalam hidupmu. Runtuknya dalam hati.
Kenapa baru sekarang kau menyadari, Fabian. Bahwa Nia sangat berarti dalam hidupmu. Runtuknya dalam hati.
Ini adalah kesalahan fatal dalam hidupnya. Mencintai orang yang salah dan memilih yang salah. Tanpa ia ketahui bahwa dihadapannya ada wanita yang benar - benar hebat yang selalu menantinya.
Clek
Pintu ruangan terbuka menampilkan seorang laki-laki yang berjalan ke arah Bian.
Bian mendongakkan kepalanya. " Apa sudah ketemu ?"
Alex yang merupakan sahabat dari Bian hanya menggelengkan kepalanya.
"Kita harus mencarinya pelan-pelan, Bi"
" Kau tahu aku adalah pria bodoh yang sudah melakukan kesalahan sangat fatal" Bian berdiri dan memandang langit yang terlihat akan turun hujan.
" Apa menurutmu ini hukuman untukku ? "
Alex menggelengkan kepalanya lalu berjalan mendekat ke arah Bian. " Semua manusia pasti memiliki kesalahan, Bi. Aku juga pernah punya kesalahan. Hanya waktu yang mampu menyadarkan kita".
" Aku ingin tahu bagaimana keadaan Nia. Apa dia baik- baik saja setelah aku menyuruhnya pergi" lirih Bian.
" Dia akan selalu baik-baik saja, Bian"
'Aku merindukan senyuman matahari'
Bian kembali memijat pelipisnya. " Aku harap ia baik-baik saja, Lex"
Alex merasa kasian pada sahabatnya itu, ia hanya menepuk pundak Bian mengatakan bahwa ia tidak perlu khawatir.
****
Seandainya kau tahu kita memiliki rasa yang sama, kenapa kau baru menyadari saat kau kehilanganku - Rania
Penyesalan itu selalu datang terlambat tanpa sadar, aku merindukanmu. Sayang, dimana kamu saat ini - Fabian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar