Rabu, 09 Desember 2015

Kau Memilih Dia // 3

Kehamilanku sudah menginjak bulan ketiga. Kegiatan juga sama selalu datang ke Butik jika karyawanku membutuhkan.
Kakek memberikan kegiatan untukku yaitu mengurus butik hasil peninggalan ibuku.
Yah, aku memang suka menggambar aku bahkan mengambil jurusan desainer saat kuliah dulu.
Aku hanya terdiam menatap gambar yang ada dihadapanku. Sambil mengelus perutku.
Pikiranku melayang buana kemana pun.
Aku masih merindukannya. Merindukan priaku.
****
Sejak kejadian ia meminta izin padaku untuk menikah dengan Lucia. Aku hanya diam melihat kemesraan meraka berdua.
Aku tidak berkata apapun. Cukup memahami dan mengerti bahwa dia tidak menginginkanku.
Aku menghela nafas panjang, Fabian tidak pernah sekalipun mengizinkan aku untuk menegur sapa Lucia.
Ia juga tidak pernah bertanya lagi tentang ku tentang masalah pernikahan waktu itu yang sempat ia bahas.
Aku kecewa. Sungguh, orang yang dijodohkan oleh Kakek ternyata tidak menyukai kehadiranku.
Aku merasa asing.
Disini.
Aku berjalan keluar rumah menuju halaman belakang.
Rumah ini sungguh besar tapi jujur rumah ini sungguh sepi dan hampa.
Aku duduk disalah satu bangku. Tidak bisa memikirkan apa yang akan terjadi dalam rumah tanggaku.
Suamiku mengatakan jika ia tidak mencintaiku. Tidak ada cinta diantara kami.
Ia tidak tahu seberapa besar aku mencintainya dan menginginkannya.
Hatiku menjerit ketika melihat kemesraan yang ia lakukan pada yang lain.
Tidak puas untuk itu, beberapa hari ini ia menghindariku. Hal yang membuat aku selalu bertanya-tanya.
"Nona muda" seseorang memanggilku. Aku menoleh ke arahnya.
Bi Mirna, yang merupakan asisten rumah tangga di istana Fabian.
Hanya dia selama ini yang menjadi teman curhatku. Tidak ada yang lain.
Aku sungguh asing berada di kota ini.
Setelah menikah Fabian, membawaku keluar dari kota kelahiranku. Ia membawaku tinggal di kota kelahirannya.
Aku tersenyum menatap Bi Mirna. "Kenapa, Bi?" Ujarku lemah.
"Bagaimana kabar, Nona Muda?"
Aku hanya tersenyum lirih tanpa mengatakan apapun.
"Baik" ujarku.
Kami terdiam tanpa mengatakan apapun.
Hanya Bi Minta yang mengetahui keluh kesahku. Hanya ia yang bisa menjadi temanku.
"Niaaaaa...." sebuah panggilan membuat aku menoleh.
"Iya ada apa mas?" Aku pergi meninggalkan Bi Mirna yang tadi ingin berbicara padaku.
Aku berlari menuju Fabian yang sedang menungguku. Aku terdiam saat seorang wanita bergelayut manja di lengannya.
"Aku akan pergi bersama Lucia" Fabian mengucapkan dengan datar.
Aku hanya mengangguk dan ia pergi begitu saja.
'Kau akan baik-baik saja, Nia' batinku yang selalu menguatkanku.
***
"Niaaa!!!" Tersentak saat seseorang memanggil namaku. Aku menoleh dn mendapati Olla sudah berdiri di pintu ruanganku.
"Sudah berapa lama kau berada disana ?" Tanyaku.
"Menurutmu?" Cengir Olla.
"Tidak tahu" jawabku santai.
Olla merupakan sahabatku sejak aku duduk di bangku SMA sampai sekarang.
Ia merupakan sahabat terbaikku, meskipun ia memiliki kelakuan yang diluar kewajaran. Terkadang.
Ia sudah aku anggap seperti saudaraku sendiri.
"Kau sedang melamun kan ku ?" Tanya Olla yang sudah duduk di hadapanku.
Aku menggelengkan kepalaku.
"Kenapa ? Kau merindukannya ?l tanya Olla.
"Kau kemari untuk apa ?"
Aku berusaha mengalihkan pembicaraan. Sejujurnya aku tidak ingin membahas Fabian. Sudah cukup ia selalu mencuri hatiku hingga tak tersisa.
"Aku ingin memberikan ini dari Kakakku" ucap Olla.
Aku menerima sebuah amplop dari Kakakku. Ketika aku buka...
Deg
'Harus kah aku berpisah darinya ?'

Tidak ada komentar:

Posting Komentar