Rabu, 09 Desember 2015

Kau Memilih Dia // 2

"Aku akan menikah dengannya" aku terkejut dengan ucapannya.
Aku hanya diam tanpa mengatakan apapun. Jantungku berdegub dengan kencang tanpa aku sadari.
Diam.
Itulah reaksi yang sedang aku lakukan, tanpa mengatakan apapun.
Sulit rasanya ketika kau akan diduakan oleh orang lain.
Pernikahan ini dari awal memang sudah tidak terlihat baik baik saja. Bahkan terasa sangat aneh.
Aku hanya menundukkan wajahku meremas ujung bajuku.
Kenapa ?
Jika waktu itu dia menyetujui pernikahan ini, pada akhirnya ia akan bersama wanita yang ia cintai.
Lalu aku bagaimana ?
Apa aku akan bertahan dan menjalani pernikahan ini ?
Aku tidak bisa melakukannya. Sungguh. Aku terus terdiam.
Pria tampan itu duduk di sofa ruang tamu sambil menatapku dengan pandangan intens.
"Dari awal pernikahan ini tidak berjalan sesuai dengan keinginanku" ia kembali berbicara.
Pria ini, apa dia tidak memiliki hati. Atau mungkin ia tidak pernah menghormati wanita lain. Termasuk ibunya.
Pernikahan terjadi karena perjodohan yang dilakukan oleh Kakekku.
Aku tidak pernah tahu jika aku sudah di jodohkan. Saat aku sudah lulus kuliah kakek memintaku untuk menghadiri acara makan malam keluarga dan berakhirlah disini pernikahan yang tidak kami harapkan terjadi.
"Aku sudah berpacaran dengannya sejak 5 tahun yang lalu. Sebelum kau datang di kehidupan ku " kembali ucapannya terngiang.
Aku hanya bisa diam itu yang aku lakukan. Bibirku kelu. Sambil menghela nafas panjang. Aku memberanikan diri untuk menatapnya.
Mata tajam itu. Yang sudah berucap banyak padaku hari ini.
"Apa kau tidak masalah jika aku menikah lagi ?"
Tuhan, aku ingin meneteskan airmata saat ini juga. Pernikahan kami sudah berjalan 6 bulan. Dan baru kali ini ia berbicara panjang lebar padaku.
"Tanpa persetujuanmu pun sebenarnya ini semua tidak masalah" lagi aku hanya menghela nafas.
Dengan berat hati aku mengganggukan kepalaku.
'Tidak ada di dunia ini wanita yang ingin diduakan termasuk diriku" aku memberanikan diri untuk berbicara padanya dan pergi meninggalkannya.
***
Aku membuka kedua mataku. Mimpi itu lagi. Saat ia meminta izin untuk menikah dengan kekasihnya. 
Itu adalah sebuah mimpi buruk, yang terjadi dalam rumah yang tanggaku.
Bukan mimpi tapi semua itu kenyataan. Wanita mana yang mau diduakan selain diriku. Aku kembalikan badanku ke sebelah kanan sudah pagi.
Aku duduk menyandarkan tubuhku di kepala ranjang. Sambil tersenyum dan meraba perutku. "Pagi, anak Bunda".
Aku bertahan karena dia dan juga Kakek. Dan juga karena dia yang sudah mengubahku untuk belajar mencintainya.
Aku berjalan menuju pintu kamarku. Membukanya. Menuruni anak tangga dengan perlahan.
Disana aku melihat seorang pria paruh baya yang sedang menyesap minuman yang ada di tangannya sambil membaca koran.
Kakek. Adiyaksa Abimayu, seorang pengusaha sukses yang ada di Indonesia.
Bersama Reza Abimayu yang merupakan kakak kandungku.
Kak Reza tersenyum saat melihat yang berjalan kearah mereka masih dalam wajah yang kusut.
"Kau baru bangun sayang ?"
Aku menganggukkan kepalaku dan duduk disamping Kak Reza.
Kakek menatapku dan tersenyum. "Apa yang akan kau lakukan hari ini ehm?"
Aku hanya mengelengkan kepalaku. Aku merasakan Kak Reza yang menghela nafas dan Kakek yang mengusap keningnya.
Aku dan Kak Reza di besarkan oleh Kakek karena kedua orang tuaku meninggal dalam sebuah kecelakaan.
Ayahku adalah anak tunggal dari keluarga Abimayu. Sementara Ibuku, memiliki seorang adik yang bernama Tante Dira.
"Kau tidak menginginkan sesuatu?" Tanya Kak Reza.
Aku tersenyum."Jika aku ingin sesuatu aku akan mengatakannya pada Kakak".
Kak Reza kembali menyesap kopinya. "Baiklah,Kakek aku pergi ke kantor dulu ya ada beberapa yang harus aku selesaikan"Kakek hanya menganggukkan kepalanya.
Aku menatap kepergian Kak Reza.
Sejak kejadian itu aku tidak pernah diizinkan oleh Kakek bertemu dengannya bahkan aku keluar rumah akan di kawal oleh beberapa penjaga yang sudah di bayar oleh keluargaku.
Aku tahu kakek tidak ingin aku kembali padanya. Tapi ada yang mengikat kami. Ikatan yang tidak bisa di hapuskan.
***
Alex hanya bisa menggelengkan kepalanya saat rapat berlangsung.
Ia tahu sangat tahu bagaimana sahabatnya itu yang tidak fokus pada layar yang ada di hadapannya.
Tampak gelisah.
Dan tidak menyimak jalannya rapat dengan benar.
Rapat telah selesai dan Alex menghampiri Fabian.
"Bi, kau masih memikirkan Nia?"
Fabian hanya menghela nafas dan menatap sahabatnya. Banyak kata yang ingin ia ucapkan untuk sahabatnya itu tapi ia hanya berusaha diam.
Ada lubang besar yang tidak bisa ia ungkapkan.
Perasaannya sedang kacau. Ia ingin menyerah untuk mencari istrinya.
Seandainya ia tidak termakan oleh ucapan Tante Wina dan mantan kekasihnya ia tidak akan mengusir Nia yang selalu sabar menghadapinya.
Fabian tersenyum miris saat mengenang masa-masa dimana ia tidak menjadi imam yang baik untuk Nia.
Ia bahkan menyia-nyiakan wanita itu. Wanita yang selalu diam saat ia berbuat kasar.
Alex melirik Desy yang merupakan sekertaris Fabian. Gadis itu hanya mengangkat bahunya saat Fabian pergi meninggalkannya.
Alex berjalan mendekat ke arah Desy. "Apa yang terjadi ?"
" Tidak ada. Fabian sedari tadi seperti itu " ucap Desy santai dan berlalu.
"Sebelum kau pergi aku ingin bertanya padamu apa kau tahu tentang keberadaan Rania ?" Alex menarik tangan Desy yang memutar bola matanya.
"Kau tahu sekalipun aku tahu, aku tidak akan memberitahumu dan juga Fabian" Desy pergi meninggalkan Alex yang terdiam.
***
Menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya. Sambil menatap gedung-gedung pencakar langit.
Fabian menerawang saat Rania ada di sekitarnya.
Ia bersikap dingin, ketus, dan tidak peduli. Tanpa ia sadari ada perasaan yang lain menyusup diam diam ke dalam hatinya.
Beberapa bulan ini ia tidur tidak tenang. Bahkan pikirannya selalu memikirkan Rania.
Ia ingin bertemu dengan wanitannya. Kekasihnya. Tapi wanita itu menghilang tanpa ia tahu.
"Aku ingin kau pergi sejauh mungkin tanpa aku bisa melihatku lagi" Fabian membuka matanya.
Waktu itu ia sangat marah, saat Rania menampar wajah Lucia.
"Bodoh..." lirih Fabian.
"Rania aku akan mencarimu, aku akan mendapatkanmu" gumam Fabian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar