Kini aku berdiri disini memandang malam yang sepi. Menundukkan kepalaku sambil mengusap perutku.
Sudah dua bulan aku berada di rumah, di istana kakek lebih tepatnya. Semenjak kejadian pengusiran itu aku hanya bisa diam menatap bagaimana nasib bayiku kelak tanpa seorang Ayah ?
Ini membuatku menjadi bingung semua yang terjadi dalam hidupku seperti sudah direncanakan.
Kepingan luka itu terus aku ingat, kepingan hati yang tergores itu aku sangat ingat.
Fabian Wijayaningrat, nama itu selalu menghantui selama beberapa bulan terakhir ini. Betapa aku merindukannya.
Tidak mengetahui kabar suamimu. Aku tahu dia tidak mencintaiku dan selama aku menghilang dari hidupnya aku akan mencoba untuk memperbaiki hidupku bersama dengan dia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar