Rabu, 19 Agustus 2015

Me Gusta Tu - 4




Hal yang menyenangkan dalam hidup Adrian adalah bisa bertemu dengan wanita pujaan hatinya ia tidak menyangka jika Laura merupakan anak dari bosnya. Dunia memang sangat sempit, ehm ? 






Ia sudah mencari kesana kemari tentang gadis itu namun ia tak kunjung bertemu saat ini tanpa di duga dan di harapkan ia bertemu dengan gadis yang ingin ia jumpai selama ini.
Ah Tuhan, memang sangat baik bukan pada Adrian. Memberikan kesempatan untuknya bertemu dengan gadisnya. Saat ini Adrian sedang berdiri di depan pintu sebuah apartement. Jantungnya kembali berpacu dengan kecepatan yang tidak stabil.
Kecepatan yang sulit di artikan. Ia tersenyum saat melihat sebuah kertas yang kini ada di tangannya. 
Ting~~Tong~~~ 
Dengan kekuatan yang maksimal Adrian memberanikan memencet bel Apartemen. Pintu besar itu terbuka menampilkan seorang gadis yang baru beberapa jam lalu bertemu dengannya. 
Seringai tercetak jelas di bibir Adrian. Ia menatap intens gadis yang ada di hadapannya itu. 
Sementara gadis yang aa di hadapannya terdiam mematung melihat laki laki yang tadi siang bertemu dengannya.
Pertemuan tanpa disenfaja,hem ? 
"Hai, apa kabar ? " tanya Adrian
Lauren memutar matanya merasa pertanyaan Adrian sangat tidak penting.
Adrian yang mengetahuinya hanya bisa tersenyum lina hari.
"Kau susan tahu keadaanku kenapa masih bertanya ? " ketus Lauren. 
Entah lah malam ini ia sepertinya ingin marah-marah mungkin bawaan dari bayinya. Itu pikir Lauren. 
"Hanya ingin tahu saja dimana tempat tinggalmu" ucap Adrian.
"Sebaiknya kau pulang aku sedang tidak ingin menerima tamu" Lauren mendorong tubuh tegap Adrian.
"Sana pergi " dorong Lairen, ia hendak menutup pintu apartemennya namun sebuah kaki menghalanginya.
"Apa yang kau lakukan ?" Seru Lauren.
Dengan dorongan yang sedikit bertenaga Adrian membuka pintu Apartemen Lauren. Ia melangkah masuk, sementara Lauren selangkah mundur melihat tatapan tambak dari Adrian.
Semakin intens Adrian mendekatinya dengan tatapan mata musangnya. Perlahan Lauren mundur hingga ia tidak mampu pergi kemana pun. 
"A...apa.. yang ingin kamu lakukan ?" Gugup Lauren. 
"Menurutmu?" Dingin Adrian.
" K-k-kau...."
Grep
Sambil terjangkit karena terkejut akibat Adrian memeluknya secara tiba-tiba.
"Aku merindukannya,sayang" 
Deg
Jantung Lauren bertalu dengan cepat, haruskah ia percaya dengan apa yang di rasakan oleh Adrian ? Entah mengapa tubuh Lauren tiba-tiba bergetar, ia terlalu takut, takut ingin mengatakan hal yang sebenarnya pada Adrian.
Bukan... bukan ia tidak mau memberitahu Adrian tentang kehamilannya, hanya saja ia takut jika Adrian tidak percaya jika anak hang di kandungnya adalah darah dagingnya. Bagaimana jika Adrian tidak menerima buah cintanya. Parahnya mereka tidak memiliki rasa cinta. Itu yang membuat Lauren menangis. 
"Hai, baby kenapa kau menangis ?" Tanya Adrian.
"Kau...hikss.. jangan... hiks... buat aku merasa bersalah" lauren menangis sesegukkan.
"Apa yang membuatku berpikir seperti itu?"
"Aku... Pergilah, aku tidak ingin bertemu denganmu" Lauren mendorong Adrian. 
"Kita baru bertemu, sayang. Kau menyuruhku pergi " Adrian menatap intens Lauren. Ia butuh jawaban yang pasti dari wanitanya.
" Tidak ini salah, sebaiknya kita tidak usah bertemu selamanya" Lauren membalikkan tubuhnya ia terlalu lelah menghadapi Adrian.
" Tidak kau tidak bisa mengusirnya" Adrian menarik tangan Lauren. Mendekap tubuh mungil Lauren.
"Kau tahu tidak bertemu denganmu selama beberapa bulan saya sudah membuatku hampir gila apalagi kau tidak ingin bertemu denganmu selamanya " Adrian menangkap wajah Lauren.
"Adrian aku..." 
Masa bodoh. Adrian mencium bibir Lauren dengan intens. Dia tidak ingin mendengar apapun dari bibir gadisnya. Lauren adalah miliknya tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Sekalipun Lauren memintanya untuk pergi.
Ciuman itu semakin lama semakin intens bahkan Adrian sudah memasukkan tanganya ke dalam baju Lauren.
Seakan berlarut dalam permainan Adrian, Lauren pun semakin agresif. Membuat Adrian tersenyum. Lama Adrian menahan hadiahnya. Bahkan tadi siang ia selalu uring uringan pada asistennya karena Lauren pergi begitu saja.
Dan malam ini mereka mengulang kejadian satu bulan yang lalu.

Sabtu, 01 Agustus 2015

Me Gusta Tu - Chap 3




Laura terkejut saat melihat laki-laki yang ada dihadapannya. Mengapa tidak? Sedari tadi lelaki itu yang mengikutinya. Jadi, ia bernama Adrian. Nama yang tadi disebut oleh ayahnya. Apakah Laura salah mendengar ? Tidak ia, bisa melihat bagaimana senyuman mematikan dari laki-laki yang ada dihadapannya saat ini.

Bahagia. Itulah yang ada di gambaran wajah Adrian, ia kembali bertemu dengan wanita yang sempat mengalihkan pikirannya. Bagaimana tidak saat ini Laura sedang berada di hadapannya. Senang? Tentu saja ia senang melihat wanita yang selalu mengalihkan pikirannya berada di hadapannya lagi saat ini.

“Papa, kenapa …”

“Perkenalkan sayang, ini Adrian manager kepercayaan Papa” Ayah Laura memperkenalkan Adrian.

‘Apa? Papa?’ batin Adrian. Ia tersentak kaget karena panggilan yang dilayangkan Laura pada atasannya. ‘Ah,mungkin aku salah dengar’.

“Manager?” tanya Laura setengah terkejut.

“Ia, sayang. Kenapa ?” tanya Farel bingung.

“Tidak apa-apa” Laura menggelengkan kepalanya. “Aku sudah mengenalnya” cicit Laura.

“Kau mengenalnya?” tanya Farel lagi.

“Tidak, pak kami belum berkenalan” Adrian yang sedari tadi hanya diam terpaku membuka suaranya, lalu mengulurkan tangannya,” Halo, Adrian” senyum Adrian.

Laura tersenyum terpaksa karena ia pikir Adrian seperti orang bodoh, padahal mereka sudah berkenalan bukan, meskipun Laura tidak tahu tadi siapa nama pria yang kini mengulurkan tangganya hendak bersalaman,” Laura” balas Laura.

Farel tersenyum penuh arti akan perkenalan keduanya. Apakah Farel merencanakan sesuatu terhadap mereka berdua ? Tanpa Farel sadari jika sang putri semata wayang sedang mengandung ?

****
Siapa sangka sekarang ini Laura sedang duduk bersama dengan Adrian disebuah restoran? Ini semua karena ayahnya yang memaksa Laura untuk makan siang bersama dengan laki-laki yang menjengkelkan menurut Laura. Bagaimana bisa Adrian sedari tadi membuat seluruh mata menatap dirinya.

Memang benar Adrian memiliki pesona yang sangat berbeda, ia tampan, mapan, pintar, arogan, dan dingin. Namun, ia memiliki aura pemimpin yang sangat baik, dan satu lagi Adrian sangat tegas.

Laura hanya diam memperhatikan Adrian membuka menu makanan yang ada di restoran itu. Sambil mengelus perutnya Laura diam-diam mengukir senyuma,’Papa kamu ternyata tampan, sayang’ batin Laura.

“Jangan menatapku terus, nanti kamu suka sama aku” kata Adrian sambil menutup menu makanan.

Laura memutar bola matanya, “ Kenapa kamu percaya diri sekali “ ujar Laura.

“ Aku tahu kau terpesona olehku bukan?” tanya Adrian.

“Bukan” Laura menggelengkan kepalanya. “Aku hanya berpikir kenapa banyak wanita yang suka sekali menatapmu?” tanya Laura.

“Karena aku tampan”

“Benarkah, sisi mana yang tampan ?”

“Lihatlah wajahku”

“Wajahmu biasa saja” datar Laura membuat Adrian tersenyum.

“Kenapa kau tersenyum ?”

“Karena aku menyukaimu” ucap Adrian tegas.

“Tapi aku tidak menyukaimu”

Adrian mulai tertarik dengan pembicaraan yang di lontarkan oleh Laura,” aku akan memaksamu menyukaimu. Ah! Tidak bahkan aku akan memaksamu menikah denganku”.

“Meskipun aku hamil ?” cicit Laura yang mampu di dengar oleh Adrian.

“…”

“Tidak lupakan “ Laura mengalihkan padangannya kemana pun asal tidak memandang Adrian. Laura tahu, jika ia mengatakan bahwa ia sedang hamil, pasti Adrian akan terkejut. Pasalnya, mungkin saja Adrian berpikir bahwa anak yang dia kandung bukan anaknya.

Adrian memegang tangan Laura dan terkekeh dengan pernyataan Laura. Tidak, mungkinkan ia hanya melakukannya satu kali pada Laura. Itu lah yang ada di pikiran Adrian. Tidak tahukah bahwa saat ini Laura sedang mengandung anakmu?

“Hai! Aku belum menjawabnya. Aku tidak percaya jika kamu hamil. Kita baru satu kali melakukannya” kata Adrian dengan senyuman yang mampu meluluhkan siapapun.

Deg

Mendengar kata-kata dari Adrian Laura hanya menghela nafas panjang. Benar, apa yang dikatakan Adrian mereka baru melakukan satu kali jadi tidak mungkin ia langsung hamil.

“Ya, kau benar” lirih Laura setengah kecewa pada laki-laki yang duduk dihadapannya.

****
Laura hanya termenung di balkon kamarnya. Ia masih memikirkan kata-kata Adrian. Apa mungkin Adrian mempercayainya? Apakah ia harus meminta pertanggung jawaban dari Adrian? Tidak, Laura mengurungkan niatnya, ia tidak akan memberitahu Adrian ataupun ayahnya.

Ia tidak mau jika nanti Adrian tidak mau menerima anak yang saat ini telah tumbuh dalam rahimnya. Biarkan kali ini ia egois.

Laura tahu suatu hari nanti ia harus berkata jujur oleh Ayahnya. Tapi Laura tidak sanggup untuk melihat wajah kecewa dari Ayahnya. Setelah ujian kuliah ia harus pergi jauh meninggalkan Jakarta tanpa ada seorang pun yang tahu. Ia akan membawa anak yang ada di kandungannya terlahir ke dunia, meskipun tanpa Ayah.

“Kita akan melakukannya bersama, sayang. Bantu mama, ehm?” Laura mengelus perutnya dengan lembut.

“Maafi Laura, Pa” gumam Laura.



Love - Chap 3



“Hoammm…selamat pagi,Bibi !”
“Pagi, Nona. Sudah bangun ?”
“Iya,“ jawabku dengan senyum. “ Cha-cha pergi mandi dulu yah,Bi “.
            Dengan Memakai seragam sekolah. Aku bergegas untuk pergi kemeja makan, di sana Teteh Gabriela telah menungguku.
“Pagi, “ sapaku dengan senyuman.
“Pagi cantik. Wow, seragam yang indah ya ?”
“Terimakasih” jawabku lagi.
“Sebelum berangkat ke sekolah makan dulu yah,Sayang. Habis makan……”
Aku memotong pembicaraannya secara tiba-tiba,” terus minum obat “. Kemudian Dia melihat diriku,”upps….. Maaf,Teteh !” kataku dengan muka kecewa.
Gabriela hanya tersenyum padaku dan berkata,” Cha-cha capek yah,minum obat terus ?”
Pertanyaan yang membuat aku kaget untuk menjawabnya. Aku menjawab dengan ragu,” Cha-cha……..”. Tiba-tiba aku melihat jam yang ada di diding dekat meja makan,” Sudahlah Teteh, Cha nggak papa kok. Obatnya mana? Soalnya ntar Cha-cha nggak dapat angkot kalo berangkat kesiangan “.
“Kok naik angkot?“ kata Gabriela.
“Teteh !!” Aku cemberut.
“Baiklah sayang. Hati-hati yah,Baby kecil “.
“Iya,” jawabku sambil mencium pipinya dan berlari keluar.
Matahari telah berada di timur, pagi yang indah dan cerah. Setiap hari melangkah seperti ini untuk menuntut ilmu. “Hai, apa kabar matahari ? Cinta yang cerah untuk hari ini secerah sinar mataharimu. Matahari terimakasih atas senyumanya untuk pagi ini. Senyuman yang indah seindah cahaya pagimu. Berikan salam untuk semua orang di dunia yah ? Owh, yah…. Salam juga sama mama papa dari Cha-cha gitu “ kata hatiku sambil tersenyum kecil.
Seperti biasa aku pergi kesekolah naik angkot yaitu angkutan kota. Lebih senang naik angkot dari pada naik mobil pribadi, karena bisa lebih bermasyarakat. Melihat-lihat secara langsung kegiatan semua orang yang mereka lakukan. Melihat ekspresi semua orang pada pagi hari. Kapan lagi bisa seperti ini. Hidup dalam kemewahan itu tak pernah menutupi bahwa aku kesepian. Hidup dalam kemewahan itu tak pernah menutupi kalau aku sedang sedih. Hidup dalam kemewahan itu tidak menutupi kalau aku sedang merindukan kakek dan kedua kakakku. Dan hidup dalam kemewahan membuat aku menderita dengan meminum obat-obatan itu.
Seperti inilah kegiatanku, rutinitas yang harus aku lakukan. Kegiatan yang menyenangkan. Naik angkot, jalan kaki, ngobrol sama teman, dan lain-lain. “Sudah sampai ternyata”.
“Pagi Cha-cha,“ kata wali kelasku.
“Pagi, Ibu. Pagi yang indah.“Aku tersenyum.
Aku menelusuri lorong sekolahku menuju kelas. Ternyata sudah banyak yang datang pagi ini. Apa yang akan terjadi pada hari ini?Apakah akan menyenangkan? Jawabannya aku juga nggak tahu. Hanya Tuhan yang tahu apa yang terjadi hari ini. Apakah indah seindah cahayanya di pagi ini atau tidak.
“Wew, pagi-pagi sudah ngelamun ?”kata Denis.
“Denis, apaan sih ? siapa yang melamun coba ?” jawabku spontan kaget.
“Itu tadi, ntar kesambet loh sama……”
“Sama apa ?” Aku memotong pembicaraannya.
“Itu sama Raisha” jawabnya sambil jeplak.
“Heheheheeh….. Garing !”
“Ya Allah, Cha masa gitu aja basi sih ?”
“Tau ah ?” jawabku sambil pergi.
Denis adalah sahabat aku dari SD, SMP, dan SMA. Dan lebih parahnya lagi aku selalu satu sekolah sama dia meski aku berbeda kelas. Orangnya memang seperti itu kalau berbicara asal jeplak sesuka hatinya, tapi sahabatku ini lucu loh kalo dia sudah berbicara ngasal gitu. Dari dulu, Denis paling jago sama yang namanya Bahasa Inggris. Nggak tahu kenapa kata Denis mau keliling dunia . Aku anggap dia kayak saudara aku sendiri mungkin kayak kedua kakak aku.
“Heh, kenapa lagi kamu sama Denis ?” kata Raisha.
“Tau ah, orang aneh tu dia !” jawabku sinis.
“Lah, di tanya kok malah gitu”.
Pergi ke dalam kelas sambil menggerutu semua ini karena kerjaannya Denis. Pagi-pagi sudah buat orang jengkel. Membuat orang darah tinggi. Dan membuat orang emosi tingkat tinggi. Ketika aku menggerutu aku berkenalan dengan sesosok teman perempuan yang cantik, baik, dan manis. Sambil berbalik kemudian,”Hai…..Kayaknya kita belum kenalan yah ?”
“Hai, iya” jawabnya.
“Cha-cha” kataku sambil mengulurkan tanganku dan tersenyum.
“Andien” jawabnya sambil membalas uluran tanganku dan tersenyum.
“Kamu kok sendirian aja sih ? Belum punya temen yah ?”
Dia hanya tersenyum saja. Aku pun membalas senyuman itu dari bibir mungilnya.Tak lama itu bel berbunyi tanda masuk dalam kelas dan memulai pelajaran. Hari ini pelajaran matematika. Wah, pelajaran eksak nie yang membuat aku bingung. Harus tetap berusaha untuk hari ini.

Matahari senyuman yang indah. Memberikan semangat yang indah untuk diriku untuk melangkah sedikit demi sedikit. Matahari yang tersenyum memberikan secercah senyumanku pagi ini. Apakah kau juga ingin memberikan senyuman itu untukku, CINTA ?

Love - Chap 2

Pulang sekolah, rasanya ingin melepaskan lelah dengan bermain games. Seperti biasa rumah sepi, hanya ada aku seorang. Mungkin saat ini Gabriela sedang bekerja sebagai dokter umum di rumah sakit dekat rumah kami. Sementara bibi, sibuk dengan tugasnya menyiapkan makan malam dan segala keperluanku. “ Saatnya bermain games,” batinku.
            Disela-sela aku bermain games, aku teringat dengan senyuman keluargaku yang ada di bingkai foto di samping komputer milikku. Ingin menangis melihat senyuman-senyuman indah itu. Kangen dengan kebersamaan itu. Kangen sama Kris, Yuri dan Carissa. Terutama aku kangen sama Kakek. “ Kapan bertemu mereka lagi ?” kata hatiku sambil meneteskan airmata. “ Semoga mereka baik-baik saja. Cha-cha sayang kalian semua. Terimakasih telah memberikan semuanya” .
            “Non, makan dulu. Terus ntar minum obatnya,“ kata bibi yang tiba-tiba masuk ke kamar.
            “Iya, Bi. “Aku mengapus airmata.
            “Non, nggak apa-apa kan ?“
            “ Nggak apa-apa, Bi . Udah Cha-cha mau ke bawah dulu mau makan.“ Aku pergi meninggalkan bibi.
            Aku berlari dari lantai dua rumahku menuju ruang makan yang berada di lantai satu. Melihat makanan yang telah di sediakan di atas meja makan. Jujur sebenarnya makanan-makanan itu sangat membosankan. Mungkin aku mencoba untuk membujuk bibi agar bisa di buatkan mie instant, makanan kesukaanku.
            “ Makannya ini aja ya, Bi?“ kataku.
            “ Iya, Non. Memang kenapa ?”
            “ Cha-cha mau makan mie instant,Bi. Cha-cha kepingin banget.“.
            “ Nggak boleh yah, Non ? Sekarang Nona duduk dan makan ini.“ Bibi menyuruhku duduk dimeja makan.
            Aku pun menuruti apa kata Bibi. Duduk di atas kursi meja makan. Aku mencoba lagi merayu bibi,” Bibi, mie. “
            “ Nggak boleh yah, Non ?”
            “ Hu-uh, Bibi pelit !” Aku marah.
            Sambil memakan makanan yang di taruh di atas piringku. Aku pun memakannya dengan wajah cemberut. “ Setiap Cha-cha pengen mie pasti nggak di bolehin sebenarnya kenapa sih ?” kataku sambil menggerutu. Bibi hanya tersenyum kecil. “ Habis makan, jangan lupa yah Cha-cha minum obat “ sambungku lagi sambil memasukkan makanan ke dalam mulutku. “ Jadi sebel Cha-cha nie, hu-uh”. Bibi cuma tersenyum saja ketika aku menggerutu seperti itu.
            “ Nah, udah selesai makannya, sekarang minum obatnya yah ?”
            “Iya,Bi. Cha-cha nggak lupa kok.“ Aku kesal kepada Bibi yang menyuruhku meminum obat.
            “Gitu dunk, cantik !”
            “Udah. Cha-cha mau ke kamar dulu ntar kalau Teteh Gabriela pulang, kasih tau Cha-cha.”
            “Iya, Non”.
            Berjalan menyusuri lorong-lorong rumah. Entah apa yang ingin aku lakukan di rumah sebesar ini. Tidak ada orang hanya aku saja yang berada di dalamnya. Seperti di penjara dalam keping-keping bayangan yang ada di rumah ini. Ingin rasanya seperti burung yang terbang menyusuri dunia yang megah ini. Aku berhenti di depan kamar kerja kakek. Aku buka pintu itu perlahan-lahan. “Kapan kakek pulang dari perjalanannya, ya ?” kata hatiku. “ Kangen sama kakek, pengen bermain bersama dia lagi. Tapi akhir-akhir ini kakek sibuk.”
            Memang benar aku di lahirkan di keluarga yang sangat kaya, tapi itu semua hanyalah topeng belakang. Aku merasa kesepian di dalam hatiku. Aku anak terakhir dari tiga bersaudara, kedua kakakku adalah laki-laki tapi bereka berdua telah menikah. Sekarang aku tinggal bersama istri kakak keduaku, sedangkan kakakku  sibuk dengan pekerjaannya di luar negeri.
            Kedua orangtuaku telah tiada, ibu meninggal setelah melahirkan aku, sementara ayah meninggal ketika aku masih berada di dalam kandungan. Waktu itu ayah sedang berpergian keluar kota, entah bagaimana ayah tiba-tiba menabrak sebuah trotoar yang ada di pinggir jalan. Setahuku jalan ceritanya seperti itu.
            Aku nggak pernah tahu bagaimana kasih sayang orangtua kepada anaknya. Namun bagaimanapun aku bersyukur telah mempunyai orang-orang yang menyayangiku saat ini. Wajar jika aku terkadang suka iri kepada semua orang yang masih memiliki kedua orangtua yang masih lengkap.
            Aku duduk di kursi meja kerja kakek, melihat ruangan itu yang terlihat rapi. Susunan-susunan buku yang tersusun rapi di tempatnya. Melihat suasana ruang kerja kakek yang  tenang, membuat aku memejamkan kedua mataku. “Kapan pulang, Kakek ?” kataku dengan perlahan. “Cha-cha, kangen,“ sambungku lagi.
Tiba-tiba aku membuka sebuah laci milik Kakek. Di sana ada data dari Rumah sakit, yang membuat aku terkejut adalah di sana ada namaku. “DIANA PYDDYA ALEXANDRA CHAIREN ZHU”. Aku membuka map tersebut dan melihat isinya. Saat itu aku tidak sadar mataku melotot dan membesar. Mataku kemudian menerawang tidak percaya. Jadi selama ini yang mereka sembunyikan adalah ini. Selama itukah mereka menutupinya, 16 tahun mereka selalu bilang aku baik-baik saja. Tanpa terasa aku meneteskan air mata. Dan air mata itu sudah mengalir di kedua pipiku. “ Kenapa? Kenapa,Tuhan? Kenapa semua ini ditutupi, Tuhan? “
Aku tidak percaya dengan semua ini. Obat-obatan, larangan-larangan, tiap bulan check up, darah, pingsan. Jadi ini, mereka semua khawatir karena ini? Selama itukah mereka telah menutupiku agar aku tidak mengingat kematianku? Separah itukah keadaanku? Aku mengatur emosiku dengan sebaik-baiknya. Aku sekarang tahu mereka seperti ini demi kebaikkanku mereka sibuk karena keadaanku. Mereka semua terlalu sayang padaku.
Aku menghapus air mataku. Menganggap semuanya tidak terjadi apa-apa. Aku meletakkan dataku ketempat semula. Aku akan seperti biasa mengganggap aku baik-baik saja sampai suatu saat aku akan memberitahu mereka bahwa aku sudah mengetahuinya. Jadi, sekarang adalah memanfaatkan waktu sebaik-baik mungkin untuk bisa bersama dengan mereka semua. Yah, bersama dengan kakek, kedua kakakku dan kakak ipar beserta teman-temanku.
            Bel rumah berbunyi. Bibi yang dari dapur pun berlari menuju pintu utama untuk membukakan pintu rumah. Tiba-tiba, “ Cha-cha mana, Bi “Gabriela tergesa-gesa.
            “Tadi katanya ke kamarnya, Non “jawab Bibi.
            “ Cha-Cha………. Cha-cha………!!” Panggil Gabriela.
Aku terkejut mendengar suara itu. Kubuka pintu, dan aku cepat-cepat berlari menuju suara yang memanggil-manggil diriku. “ Teteh…..!!” Aku tersenyum.
Tiba-tiba saja Gabriela memelukku, “Teteh kangen sama Cha-cha “.
Aku hanya bisa tersenyum lalu berkata,” Kan Cha-cha baru aja sekolah,kenapa kangen ?” Tanyaku.
“Kangen lah sama adiknya Kak Kris yang lucu ini.“Gabriela mencubit pipiku.
Aku hanya bisa tersenyum dan memeluk dirinya. Seperti memeluk seorang Ibu. Meski aku tak tahu bagaimana rasa kasih sayang itu. Aku sayang dengan kakak iparku yang cantik ini. Tuhan, merencanakan semuanya. Merencanakan aku tak bertemu dengan orangtuaku namun Tuhan mengirimkan banyak malaikat-malaikat ke dalam kehidupanku. Rencana itu begitu indah sampai-sampai aku tak ingin pergi seperti mimpi yang tak ingin terbangun dari mimpi itu.
Kak Gabriela selalu merasakan apa yang aku rasa, seperti seorang ibu yang merasakan kegalauan anak-anaknya. Felling yang kuat yang di milikinya. Dia tahu perasaan diriku semuanya. Saat aku sedih, gembira, marah, dan segalanya. Semua itu dia redakan dengan cinta dan kasih sayang. Terkadang aku berpikir bahwa ketika Kak Kris menikah dengan seorang wanita aku tidak pernah di perhatikan tapi aku salah, Kak Kris mendapatkan jodoh yang jauh lebih baik.  Kakak ke dua yang aku sayang. Selalu bersama dirinya kemana aku pergi. Tapi kini aku hanya sendiri berada di Indonesia.
Orang-orang yang terindah dalam hidupku. Jangan hapus mereka dari pikiranku. Orang-orang yang membuat aku terkadang iri terhadap mereka. Karena aku selalu tak di perbolehkan berpikir keras dan lain-lain. Malaikat-malaikat yang selalu menjaga diriku. Inilah hidup terkadang di atas tapi kadang juga di bawah.
“Ikut, Teteh yuk ?” Gabriela yang tiba-tiba muncul dari belakang pintu kamarku.
“Mau kemana ?”Tanyaku.
“Ikut aja. Mau yah ?”
“Ehhhmmmm…. Ok. Cha-cha ganti baju dulu yah ?”
Jam 04.00 WITA aku di ajak pergi jalan-jalan ke Mall bersama Gabriela. Seperti biasa dia mengajakku untuk menghilang stress belakang. Jalan bersama dirinya begitu menyenangkan. Kapan lagi bisa jalan-jalan sama seorang dokter, yang pintar, cantik lagi yah pokoknya sempurnalah. Matahari yang menggeser ke sebelah barat yang diam-diam mengintip diriku berpergian bersamanya.
“Sore yang indah “gumamku.
“Iya, senyum matahari seperti dirimu” Gabriela menyetir mobil.
Aku hanya tersenyum. Melihat pemandangan sekitar. Seperti lama tak melihat pemandangan itu. Kota yang indah, sejuk, dan asri. Di sore yang indah menghirup udara sekitar. Membuat nafas menjadi lebih lega melepaskan segala beban yang ada di dada.
“Ntar kalau sampai Mall Cha-cha belanja sesuka hati Cha-cha yah ?”
“Iya”Aku  tersenyum.
Di dalam Mall aku berbelanja sesuka hatiku sesuai permintaan hatiku. Seperti bisa berbelanja kebutuhan perempuan dan banyak cemilan. Makanan-makanan yang aku sukai. Rasanya seperti lama tak keluar rumah bersama dengan orang yang aku sayang.
“Ternyata belanjaannya banyak sekali yah ?” Gabriela membawa trolly belanjaan.
“Kalau kebanyakan ntar sebagian Cha-cha kembalikan “ jawabku dengan santai.
“Tidak usah, justru teteh mau tanya apakah ini sudah cukup belanjanya ?”
“Udah, Teteh “ aku tertawa kecil.
Beginilah cara Teteh Gabriela menenangkan segala pikiranku dengan berbelanja beraneka ragam pakaian,makanan,minuman, dan lain-lain. Sampai-sampai terkadang aku bingung untuk menggunakannya. Aku sayang dengan semua orang yang berada di dekatku. Teteh Gabriela sudah aku anggap seperti ibuku sendiri, meski terkadang sibuk.

Malaikat-makaikat yang terindah itu adalah kalian semua yang telah memasuki kehidupanku. Tuhan mengirimkan mereka itu karena Tuhan tahu aku membutuhkan kalian. Termasuk aku membutuhkan dirimu, CINTA.

Love - Chap 1



Pagi nan indah burung-burung berkicau dengan merdu. Aku melangkah menyusuri pagi nan indah itu. “ Pagi yang indah, Bi “ jawabku. Matahari yang mengintip di balik jendelaku. “ Hm, pagi dunia !!” dalam hatiku. Aku bergegas untuk memakai seragam berwarna putih dan abu-abu. Aku baru ingat hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah. Tak kusangka aku sudah kelas 2 SMA. Sebentar lagi bakalan kelas 3 SMA dan sebentar lagi aku akan lulus, batinku berkata seperti itu.
            “ Sarapannya sudah siap, Non, “ kata bibiku.
            “ Sebentar aku akan ke bawah, Bi .“.
            Sambil meniup rambutku yang berponi di depan, “ Aku siap,“ kataku dengan tegas dan penuh semangat. Dengan buru-buru aku melahap semua makanan yang ada di meja makan.
            “ Pelan-pelan, Sayang. “.
            “ Ini udah pelan-pelan, Teh .“
            “ Semangat amat sih kayaknya. “
            “ Iya dunk, bentar lagi kan aku mau 17 tahun, “ aku tertawa.
            “ Hari ini….” Gabriel belum sempat berbicara aku sudah memotongnya.
            “ Hari ini Cha-cha naik angkot aja, Teh, “ kataku dengan cepat. “ Cha-cha pergi dulu ya, Teh, “ sambil mencium kedua pipi Kak Gabriela.
            Sesampai di sekolah, aku menyapa teman-temanku. Sekarang aku telah duduk di kelas 2 SMA, tepatnya aku masuk di jurusan IPA. Tapi IPA paling terakhir yaitu IPA 2. Jadi, aku sekarang kelas 2 IPA . Senang sih, bisa masuk di kelas IPA. Karena banyak orang-orang yang takut dengan kata-kata IPA tapi sebenarnya menurutku itu adalah sebuat tantangan buat aku.
            “ Cha…,” kata seorang temanku yang menyapaku.
            “ Raisha, kamu masuk kelas ini juga ya ?!!”aku menyapa Raisha.
            Raisha itu adalah teman aku dari SMP, sampai sekarang pun aku masih bertemanan dengan dia. Dia sudah aku anggap seperti saudara aku sendiri. Meski terkadang dia keras kepala atau suka berontak. Tapi dibalik itu semua dia anaknya seru kok.
            “ Berarti kita satu kelas donk ?!”
            “ Iya, kamu duduk sama siapa ?”.
            “ Mega. “
            “ Aku duduk di belakang kamu aja deh, biar kita bisa bergosip “.
            Aku hanya tersenyum kecil. Itu baru hanya segelintir teman-temanku. Aku juga sekelas dengan teman-temanku dari kelas 1 yaitu, Daela, Mitha, Arga, dan Denis. Ternyata seru juga punya teman-teman yang kumpul dalam satu kelas.
            “ Baik, hari ini adalah hari pertama kalian masuk sekolah,“ kata wali kelas kami.
            “ Hari yang indah ya ?” kata Mega.
            “ Ya, begitulah. “
            Wali kelas kami adalah seorang guru kimia yang sangat di segani oleh para siswa-siswi di sekolah kami. Dia menceritakan dan mengucapkan selamat datang di kelas IPA 2, juga menjelaskan tentang peraturan-peraturan yang ada di kelas kami.
            “ Bukan begitu, Cha-cha “ kata guruku sambil melontarkan senyuman secara tiba-tiba.
            Aku hanya bisa tersenyum kecil. Hatiku berkata,” Apa maksudnya senyumannya itu ? ehhmmm, nggak usah dipikirkan”.
            “ Baiklah, apakah kalian mengenal teman-teman kalian?“ tanya guruk kimia-ku lagi.
            “ Kalo Cha-cha aku udah tau,“ ujar Mega tiba-tiba. Hanya aku balas dengan senyuman.
            Kami pun berkenalan satu sama yang lain. Aku berkenalan pada satu orang laki-laki yang bernama Dimas. Cowok aneh yang pernah aku temui. Cowok yang asik dengan dunianya sendiri, yang suka bermain sendiri, suka mengganggu teman-teman yang lain dan lain-lain.
            Sementara dirumah Gabriela sedang sibuk membersihkan kamarku dengan Bibi. Tiba-tiba Gabriela tak sengaja menjatuhkan buku harianku. Gabriela Pun membuka buku harian tersebut.
            “ Kapan bisa seperti mereka memiliki orang tua di sayang sanak saudara ? Kapan aku seperti mereka bisa di elus-elus rambutku seperti mereka ? Kapan aku bisa berhenti meminum obat-obatan seperti ini? Sebenarnya aku sakit apa ? Tuhan, tolong bantu aku untuk menjawab semuanya. Aku telah lelah dengan semua ini. Lebih baik aku tidak punya dari pada aku punya tapi keadaan keluargaku seperti ini. Pengen ngerasain kasih sayang mama sama papa. Tapi kapan ? “
            Gabriela yang membaca buku harian tersebut spontan menangis. Bibi pun bingung melihat Gabriela menangis, “ Non, kenapa menangis ?” kata bibi
            “ Tidak apa-apa, Bi. Tiba-tiba saya kangen sama Cha-cha,” Gabriela menghapus airmatanya.
            “ Dia akan baik-baik saja, Non “.
            “ Semoga ,“ lirih Gabriela yang tidak terdegar oleh Bibi.
            Di sekolah aku sedang asik berkeliling sekolah. Menyapa guru-guru dan teman-teman, berjalan di lorong-lorong sekolah sambil melihat keadaan kelas lain. Tiba-tiba kakiku berhenti ketika ada seseorang yang memanggil aku dari belakang. Dengan cepat aku berbalik ke belakang ternyata yang memanggil aku adalah Mitha.
            “ Kenapa, Mit ?”Aku tersenyum.
            “ Kamu mau kemana ?”
            “ Aku mau keliling-keling aja, bosen di kelas paling juga masih kenalan kan ?”
            “ Aku ikut yah ?”
            “ Iya,” jawabku tersenyum.
            Aku dan Mitha pun berjalan mengelilingi lorong-lorong. Kemudian aku memperhatikan seseorang dari kejauhan. Seorang laki-laki yang dulu aku suka, namun sekarang aku telah menganggap dia sebagai teman saja. Saat melewati depan kelasnya, tanpa sengaja mata kami pun bertemu, lalu….
            “ Cha, apa kabar ?” kata Sandy. Namanya adalah Sandy, dulu dia sekelas dengan aku. Dulu waktu kelas satu SMA kami digosipkan sedang pacaran. Tapi sebenarnya tidak sama sekali.
            “ Alhamdulilah baik, ” Aku tersenyum kecil.
            “ Kamu mau kemana, Cha ?”
            “ Mau ke kelas. Permisi “ jawabku meninggalkan dia.
            Sandy yang aku kenal sekarang sama seperti yang aku kenal kelas satu yang lalu. Tetap lugu dan polos. Kenapa aku bisa suka orang seperti dia? Hari pertama saja sudah bertemu dengan dia. Bagaimana hari-hari berikutnya?.
            Setelah aku sampai di kelas, tiba-tiba seseorang cowok aneh di kelasku menemui aku. . “ Emmm, hai!” katanya sambil mengulurkan tangan. Sementara aku terdiam memperhatikan dirinya. Kemudian dia berkata lagi,” Kenapa bengong melihatku ?” Lalu aku tersenyum. “ Hai, Dimas,” katanya lagi.
            “ Cha-cha,” jawabku sambil duduk di tempat dudukku.
            “Ok, “ jawabnya.
            Tiba-tiba dari arah belakang, “ Darimana aja, Cha ?” kata Raisha.
            “Dari muter-muter,” jawabku singkat.
            “ Tadi pemilihan ketua kelas loh. Yang jadi ketuanya Dimas, aku jadi sekertarisnya. Terus yang jadi bendahara Lila. Huff, nggak akan percaya aku ?” jelasnya.
            “ Lah, emang kenapa ?”
            “ Ntar kamu tau sendiri kok “.
Dan jika pada saat itu aku memahami dirimu mengetahui tentang waktu aku bertemu dengan dirimu. Dirimu, telah masuk didalam kehidupanku menjadi bagian dari diriku. Dan aku nggak pernah menyesal pernah bertemu dan berkenalan pertama kali dengan dirimu. Ingin mengulang waktu itu, namun tidak bisa karena aku lemah dengan waktu.