Pulang
sekolah, rasanya ingin melepaskan lelah dengan bermain games. Seperti biasa
rumah sepi, hanya ada aku seorang. Mungkin saat ini Gabriela sedang bekerja
sebagai dokter umum di rumah sakit dekat rumah kami. Sementara bibi, sibuk
dengan tugasnya menyiapkan makan malam dan segala keperluanku. “ Saatnya
bermain games,” batinku.
Disela-sela aku bermain games, aku
teringat dengan senyuman keluargaku yang ada di bingkai foto di samping
komputer milikku. Ingin menangis melihat senyuman-senyuman indah itu. Kangen
dengan kebersamaan itu. Kangen sama Kris, Yuri dan Carissa. Terutama aku kangen
sama Kakek. “ Kapan bertemu mereka lagi ?” kata hatiku sambil meneteskan
airmata. “ Semoga mereka baik-baik saja. Cha-cha
sayang kalian semua. Terimakasih telah memberikan semuanya” .
“Non, makan dulu. Terus ntar minum
obatnya,“ kata bibi yang tiba-tiba masuk ke kamar.
“Iya, Bi. “Aku mengapus airmata.
“Non, nggak apa-apa kan ?“
“ Nggak apa-apa, Bi . Udah Cha-cha
mau ke bawah dulu mau makan.“ Aku
pergi meninggalkan bibi.
Aku berlari dari lantai dua rumahku
menuju ruang makan yang berada di lantai satu. Melihat makanan yang telah di
sediakan di atas meja makan. Jujur sebenarnya makanan-makanan itu sangat
membosankan. Mungkin aku mencoba untuk membujuk bibi agar bisa di buatkan mie
instant, makanan kesukaanku.
“ Makannya ini aja ya, Bi?“ kataku.
“ Iya, Non. Memang kenapa ?”
“ Cha-cha mau makan mie instant,Bi.
Cha-cha kepingin banget.“.
“ Nggak boleh yah, Non ? Sekarang
Nona duduk dan makan ini.“ Bibi menyuruhku
duduk dimeja makan.
Aku pun menuruti apa kata Bibi.
Duduk di atas kursi meja makan. Aku mencoba lagi merayu bibi,” Bibi, mie. “
“ Nggak boleh yah, Non ?”
“ Hu-uh, Bibi pelit !” Aku marah.
Sambil memakan makanan yang di taruh
di atas piringku. Aku pun memakannya dengan wajah cemberut. “ Setiap Cha-cha pengen
mie pasti nggak di bolehin sebenarnya kenapa sih ?” kataku sambil menggerutu.
Bibi hanya tersenyum kecil. “ Habis makan, jangan lupa yah Cha-cha minum obat “
sambungku lagi sambil memasukkan makanan ke dalam mulutku. “ Jadi sebel Cha-cha
nie, hu-uh”. Bibi cuma tersenyum saja ketika aku menggerutu seperti itu.
“ Nah, udah selesai makannya, sekarang
minum obatnya yah ?”
“Iya,Bi. Cha-cha nggak lupa kok.“ Aku kesal kepada Bibi yang menyuruhku meminum obat.
“Gitu dunk, cantik !”
“Udah. Cha-cha mau ke kamar dulu
ntar kalau Teteh Gabriela pulang, kasih tau Cha-cha.”
“Iya, Non”.
Berjalan menyusuri lorong-lorong
rumah. Entah apa yang ingin aku lakukan di rumah sebesar ini. Tidak ada orang
hanya aku saja yang berada di dalamnya. Seperti di penjara dalam keping-keping
bayangan yang ada di rumah ini. Ingin rasanya seperti burung yang terbang
menyusuri dunia yang megah ini. Aku berhenti di depan kamar kerja kakek. Aku buka pintu itu
perlahan-lahan. “Kapan kakek pulang dari perjalanannya, ya ?” kata hatiku. “
Kangen sama kakek, pengen bermain bersama dia lagi. Tapi akhir-akhir ini kakek
sibuk.”
Memang benar aku di lahirkan di
keluarga yang sangat kaya, tapi itu semua hanyalah topeng belakang. Aku merasa
kesepian di dalam hatiku. Aku anak terakhir dari tiga bersaudara, kedua kakakku
adalah laki-laki tapi bereka berdua telah menikah. Sekarang aku tinggal bersama
istri kakak keduaku, sedangkan kakakku
sibuk dengan pekerjaannya di luar negeri.
Kedua orangtuaku telah tiada, ibu
meninggal setelah melahirkan aku, sementara ayah meninggal ketika aku masih
berada di dalam kandungan. Waktu itu ayah sedang berpergian keluar kota, entah
bagaimana ayah tiba-tiba menabrak sebuah trotoar yang ada di pinggir jalan.
Setahuku jalan ceritanya seperti itu.
Aku nggak pernah tahu bagaimana
kasih sayang orangtua kepada anaknya. Namun bagaimanapun aku bersyukur telah
mempunyai orang-orang yang menyayangiku saat ini. Wajar jika aku terkadang suka
iri kepada semua orang yang masih memiliki kedua orangtua yang masih lengkap.
Aku duduk di kursi meja kerja kakek,
melihat ruangan itu yang terlihat rapi. Susunan-susunan buku yang tersusun rapi
di tempatnya. Melihat suasana ruang kerja kakek yang tenang, membuat aku memejamkan kedua mataku.
“Kapan pulang, Kakek ?” kataku dengan perlahan. “Cha-cha, kangen,“ sambungku
lagi.
Tiba-tiba
aku membuka sebuah laci milik Kakek. Di sana ada data dari Rumah sakit, yang
membuat aku terkejut adalah di sana ada namaku. “DIANA PYDDYA ALEXANDRA CHAIREN
ZHU”. Aku membuka map tersebut dan melihat isinya. Saat itu aku tidak sadar
mataku melotot dan membesar. Mataku kemudian menerawang tidak percaya. Jadi
selama ini yang mereka sembunyikan adalah ini. Selama itukah mereka
menutupinya, 16 tahun mereka selalu bilang aku baik-baik saja. Tanpa terasa aku
meneteskan air mata. Dan air mata itu sudah mengalir di kedua pipiku. “ Kenapa?
Kenapa,Tuhan? Kenapa semua ini ditutupi, Tuhan? “
Aku
tidak percaya dengan semua ini. Obat-obatan, larangan-larangan, tiap bulan
check up, darah, pingsan. Jadi ini, mereka semua khawatir karena ini? Selama
itukah mereka telah menutupiku agar aku tidak mengingat kematianku? Separah
itukah keadaanku? Aku mengatur emosiku dengan sebaik-baiknya. Aku sekarang tahu
mereka seperti ini demi kebaikkanku mereka sibuk karena keadaanku. Mereka semua
terlalu sayang padaku.
Aku
menghapus air mataku. Menganggap semuanya tidak terjadi apa-apa. Aku meletakkan
dataku ketempat semula. Aku akan seperti biasa mengganggap aku baik-baik saja
sampai suatu saat aku akan memberitahu mereka bahwa aku sudah mengetahuinya.
Jadi, sekarang adalah memanfaatkan waktu sebaik-baik mungkin untuk bisa bersama
dengan mereka semua. Yah, bersama dengan kakek, kedua kakakku dan kakak ipar
beserta teman-temanku.
Bel rumah berbunyi. Bibi yang dari dapur
pun berlari menuju pintu utama untuk membukakan pintu rumah. Tiba-tiba, “
Cha-cha mana, Bi “Gabriela
tergesa-gesa.
“Tadi katanya ke kamarnya, Non
“jawab Bibi.
“ Cha-Cha………. Cha-cha………!!” Panggil Gabriela.
Aku
terkejut mendengar suara itu. Kubuka pintu, dan aku cepat-cepat berlari menuju
suara yang memanggil-manggil diriku. “ Teteh…..!!” Aku tersenyum.
Tiba-tiba
saja Gabriela memelukku, “Teteh kangen sama Cha-cha “.
Aku
hanya bisa tersenyum lalu berkata,” Kan Cha-cha baru aja sekolah,kenapa kangen
?” Tanyaku.
“Kangen
lah sama adiknya Kak Kris yang lucu ini.“Gabriela mencubit pipiku.
Aku
hanya bisa tersenyum dan memeluk dirinya. Seperti memeluk seorang Ibu. Meski
aku tak tahu bagaimana rasa kasih sayang itu. Aku sayang dengan kakak iparku
yang cantik ini. Tuhan, merencanakan semuanya. Merencanakan aku tak bertemu
dengan orangtuaku namun Tuhan mengirimkan banyak malaikat-malaikat ke dalam
kehidupanku. Rencana itu begitu indah sampai-sampai aku tak ingin pergi seperti
mimpi yang tak ingin terbangun dari mimpi itu.
Kak
Gabriela selalu merasakan apa yang aku rasa, seperti seorang ibu yang merasakan
kegalauan anak-anaknya. Felling yang
kuat yang di milikinya. Dia tahu perasaan diriku semuanya. Saat aku sedih,
gembira, marah, dan segalanya. Semua itu dia redakan dengan cinta dan kasih
sayang. Terkadang aku berpikir bahwa ketika Kak Kris menikah dengan seorang
wanita aku tidak pernah di perhatikan tapi aku salah, Kak Kris mendapatkan
jodoh yang jauh lebih baik. Kakak ke dua
yang aku sayang. Selalu bersama dirinya kemana aku pergi. Tapi kini aku hanya
sendiri berada di Indonesia.
Orang-orang
yang terindah dalam hidupku. Jangan hapus mereka dari pikiranku. Orang-orang
yang membuat aku terkadang iri terhadap mereka. Karena aku selalu tak di
perbolehkan berpikir keras dan lain-lain. Malaikat-malaikat yang selalu menjaga
diriku. Inilah hidup terkadang di atas tapi kadang juga di bawah.
“Ikut,
Teteh yuk
?” Gabriela yang
tiba-tiba muncul dari belakang pintu kamarku.
“Mau
kemana ?”Tanyaku.
“Ikut
aja. Mau yah ?”
“Ehhhmmmm….
Ok. Cha-cha ganti baju dulu yah ?”
Jam
04.00 WITA aku di ajak pergi jalan-jalan ke Mall bersama Gabriela. Seperti
biasa dia mengajakku untuk menghilang stress belakang. Jalan bersama dirinya
begitu menyenangkan. Kapan lagi bisa jalan-jalan sama seorang dokter, yang
pintar, cantik lagi yah pokoknya sempurnalah. Matahari yang menggeser ke
sebelah barat yang diam-diam mengintip diriku berpergian bersamanya.
“Sore
yang indah “gumamku.
“Iya,
senyum matahari seperti dirimu” Gabriela menyetir mobil.
Aku
hanya tersenyum. Melihat pemandangan sekitar. Seperti lama tak melihat
pemandangan itu. Kota yang indah, sejuk, dan asri. Di sore yang indah menghirup
udara sekitar. Membuat nafas menjadi lebih lega melepaskan segala beban yang
ada di dada.
“Ntar
kalau sampai Mall Cha-cha belanja sesuka hati Cha-cha yah ?”
“Iya”Aku tersenyum.
Di
dalam Mall aku berbelanja sesuka hatiku sesuai permintaan hatiku. Seperti bisa
berbelanja kebutuhan perempuan dan banyak cemilan. Makanan-makanan yang aku
sukai. Rasanya seperti lama tak keluar rumah bersama dengan orang yang aku
sayang.
“Ternyata
belanjaannya banyak sekali yah ?” Gabriela membawa trolly belanjaan.
“Kalau
kebanyakan ntar sebagian Cha-cha kembalikan “ jawabku dengan santai.
“Tidak
usah, justru teteh mau tanya apakah ini sudah cukup belanjanya ?”
“Udah,
Teteh “ aku tertawa kecil.
Beginilah
cara Teteh Gabriela menenangkan segala pikiranku dengan berbelanja beraneka
ragam pakaian,makanan,minuman, dan lain-lain. Sampai-sampai terkadang aku bingung
untuk menggunakannya. Aku sayang dengan semua orang yang berada di dekatku.
Teteh Gabriela sudah aku anggap seperti ibuku sendiri, meski terkadang sibuk.
Malaikat-makaikat yang
terindah itu adalah kalian semua yang telah memasuki kehidupanku. Tuhan
mengirimkan mereka itu karena Tuhan tahu aku membutuhkan kalian. Termasuk aku
membutuhkan dirimu, CINTA.