Laura
terkejut saat melihat laki-laki yang ada dihadapannya. Mengapa tidak? Sedari
tadi lelaki itu yang mengikutinya. Jadi, ia bernama Adrian. Nama yang tadi disebut
oleh ayahnya. Apakah Laura salah mendengar ? Tidak ia, bisa melihat bagaimana
senyuman mematikan dari laki-laki yang ada dihadapannya saat ini.
Bahagia.
Itulah yang ada di gambaran wajah Adrian, ia kembali bertemu dengan wanita yang
sempat mengalihkan pikirannya. Bagaimana tidak saat ini Laura sedang berada di
hadapannya. Senang? Tentu saja ia senang melihat wanita yang selalu mengalihkan
pikirannya berada di hadapannya lagi saat ini.
“Papa,
kenapa …”
“Perkenalkan
sayang, ini Adrian manager kepercayaan Papa” Ayah Laura memperkenalkan Adrian.
‘Apa? Papa?’
batin Adrian. Ia tersentak kaget karena panggilan yang dilayangkan Laura pada
atasannya. ‘Ah,mungkin aku salah dengar’.
“Manager?”
tanya Laura setengah terkejut.
“Ia,
sayang. Kenapa ?” tanya Farel bingung.
“Tidak
apa-apa” Laura menggelengkan kepalanya. “Aku sudah mengenalnya” cicit Laura.
“Kau
mengenalnya?” tanya Farel lagi.
“Tidak,
pak kami belum berkenalan” Adrian yang sedari tadi hanya diam terpaku membuka
suaranya, lalu mengulurkan tangannya,” Halo, Adrian” senyum Adrian.
Laura
tersenyum terpaksa karena ia pikir Adrian seperti orang bodoh, padahal mereka
sudah berkenalan bukan, meskipun Laura tidak tahu tadi siapa nama pria yang
kini mengulurkan tangganya hendak bersalaman,” Laura” balas Laura.
Farel
tersenyum penuh arti akan perkenalan keduanya. Apakah Farel merencanakan
sesuatu terhadap mereka berdua ? Tanpa Farel sadari jika sang putri semata
wayang sedang mengandung ?
****
Siapa
sangka sekarang ini Laura sedang duduk bersama dengan Adrian disebuah restoran?
Ini semua karena ayahnya yang memaksa Laura untuk makan siang bersama dengan
laki-laki yang menjengkelkan menurut Laura. Bagaimana bisa Adrian sedari tadi
membuat seluruh mata menatap dirinya.
Memang
benar Adrian memiliki pesona yang sangat berbeda, ia tampan, mapan, pintar,
arogan, dan dingin. Namun, ia memiliki aura pemimpin yang sangat baik, dan satu
lagi Adrian sangat tegas.
Laura
hanya diam memperhatikan Adrian membuka menu makanan yang ada di restoran itu.
Sambil mengelus perutnya Laura diam-diam mengukir senyuma,’Papa kamu ternyata tampan, sayang’ batin Laura.
“Jangan
menatapku terus, nanti kamu suka sama aku” kata Adrian sambil menutup menu
makanan.
Laura
memutar bola matanya, “ Kenapa kamu percaya diri sekali “ ujar Laura.
“
Aku tahu kau terpesona olehku bukan?” tanya Adrian.
“Bukan”
Laura menggelengkan kepalanya. “Aku hanya berpikir kenapa banyak wanita yang
suka sekali menatapmu?” tanya Laura.
“Karena
aku tampan”
“Benarkah,
sisi mana yang tampan ?”
“Lihatlah
wajahku”
“Wajahmu
biasa saja” datar Laura membuat Adrian tersenyum.
“Kenapa
kau tersenyum ?”
“Karena
aku menyukaimu” ucap Adrian tegas.
“Tapi
aku tidak menyukaimu”
Adrian
mulai tertarik dengan pembicaraan yang di lontarkan oleh Laura,” aku akan
memaksamu menyukaimu. Ah! Tidak bahkan aku akan memaksamu menikah denganku”.
“Meskipun
aku hamil ?” cicit Laura yang mampu di dengar oleh Adrian.
“…”
“Tidak
lupakan “ Laura mengalihkan padangannya kemana pun asal tidak memandang Adrian.
Laura tahu, jika ia mengatakan bahwa ia sedang hamil, pasti Adrian akan
terkejut. Pasalnya, mungkin saja Adrian berpikir bahwa anak yang dia kandung
bukan anaknya.
Adrian
memegang tangan Laura dan terkekeh dengan pernyataan Laura. Tidak, mungkinkan
ia hanya melakukannya satu kali pada Laura. Itu lah yang ada di pikiran Adrian.
Tidak tahukah bahwa saat ini Laura sedang mengandung anakmu?
“Hai!
Aku belum menjawabnya. Aku tidak percaya jika kamu hamil. Kita baru satu kali
melakukannya” kata Adrian dengan senyuman yang mampu meluluhkan siapapun.
Deg
Mendengar
kata-kata dari Adrian Laura hanya menghela nafas panjang. Benar, apa yang
dikatakan Adrian mereka baru melakukan satu kali jadi tidak mungkin ia langsung
hamil.
“Ya,
kau benar” lirih Laura setengah kecewa pada laki-laki yang duduk dihadapannya.
****
Laura
hanya termenung di balkon kamarnya. Ia masih memikirkan kata-kata Adrian. Apa
mungkin Adrian mempercayainya? Apakah ia harus meminta pertanggung jawaban dari
Adrian? Tidak, Laura mengurungkan niatnya, ia tidak akan memberitahu Adrian
ataupun ayahnya.
Ia
tidak mau jika nanti Adrian tidak mau menerima anak yang saat ini telah tumbuh
dalam rahimnya. Biarkan kali ini ia egois.
Laura
tahu suatu hari nanti ia harus berkata jujur oleh Ayahnya. Tapi Laura tidak
sanggup untuk melihat wajah kecewa dari Ayahnya. Setelah ujian kuliah ia harus
pergi jauh meninggalkan Jakarta tanpa ada seorang pun yang tahu. Ia akan
membawa anak yang ada di kandungannya terlahir ke dunia, meskipun tanpa Ayah.
“Kita
akan melakukannya bersama, sayang. Bantu mama, ehm?” Laura mengelus perutnya
dengan lembut.
“Maafi
Laura, Pa” gumam Laura.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar