Sabtu, 01 Agustus 2015

Me Gusta Tu - Chap 3




Laura terkejut saat melihat laki-laki yang ada dihadapannya. Mengapa tidak? Sedari tadi lelaki itu yang mengikutinya. Jadi, ia bernama Adrian. Nama yang tadi disebut oleh ayahnya. Apakah Laura salah mendengar ? Tidak ia, bisa melihat bagaimana senyuman mematikan dari laki-laki yang ada dihadapannya saat ini.

Bahagia. Itulah yang ada di gambaran wajah Adrian, ia kembali bertemu dengan wanita yang sempat mengalihkan pikirannya. Bagaimana tidak saat ini Laura sedang berada di hadapannya. Senang? Tentu saja ia senang melihat wanita yang selalu mengalihkan pikirannya berada di hadapannya lagi saat ini.

“Papa, kenapa …”

“Perkenalkan sayang, ini Adrian manager kepercayaan Papa” Ayah Laura memperkenalkan Adrian.

‘Apa? Papa?’ batin Adrian. Ia tersentak kaget karena panggilan yang dilayangkan Laura pada atasannya. ‘Ah,mungkin aku salah dengar’.

“Manager?” tanya Laura setengah terkejut.

“Ia, sayang. Kenapa ?” tanya Farel bingung.

“Tidak apa-apa” Laura menggelengkan kepalanya. “Aku sudah mengenalnya” cicit Laura.

“Kau mengenalnya?” tanya Farel lagi.

“Tidak, pak kami belum berkenalan” Adrian yang sedari tadi hanya diam terpaku membuka suaranya, lalu mengulurkan tangannya,” Halo, Adrian” senyum Adrian.

Laura tersenyum terpaksa karena ia pikir Adrian seperti orang bodoh, padahal mereka sudah berkenalan bukan, meskipun Laura tidak tahu tadi siapa nama pria yang kini mengulurkan tangganya hendak bersalaman,” Laura” balas Laura.

Farel tersenyum penuh arti akan perkenalan keduanya. Apakah Farel merencanakan sesuatu terhadap mereka berdua ? Tanpa Farel sadari jika sang putri semata wayang sedang mengandung ?

****
Siapa sangka sekarang ini Laura sedang duduk bersama dengan Adrian disebuah restoran? Ini semua karena ayahnya yang memaksa Laura untuk makan siang bersama dengan laki-laki yang menjengkelkan menurut Laura. Bagaimana bisa Adrian sedari tadi membuat seluruh mata menatap dirinya.

Memang benar Adrian memiliki pesona yang sangat berbeda, ia tampan, mapan, pintar, arogan, dan dingin. Namun, ia memiliki aura pemimpin yang sangat baik, dan satu lagi Adrian sangat tegas.

Laura hanya diam memperhatikan Adrian membuka menu makanan yang ada di restoran itu. Sambil mengelus perutnya Laura diam-diam mengukir senyuma,’Papa kamu ternyata tampan, sayang’ batin Laura.

“Jangan menatapku terus, nanti kamu suka sama aku” kata Adrian sambil menutup menu makanan.

Laura memutar bola matanya, “ Kenapa kamu percaya diri sekali “ ujar Laura.

“ Aku tahu kau terpesona olehku bukan?” tanya Adrian.

“Bukan” Laura menggelengkan kepalanya. “Aku hanya berpikir kenapa banyak wanita yang suka sekali menatapmu?” tanya Laura.

“Karena aku tampan”

“Benarkah, sisi mana yang tampan ?”

“Lihatlah wajahku”

“Wajahmu biasa saja” datar Laura membuat Adrian tersenyum.

“Kenapa kau tersenyum ?”

“Karena aku menyukaimu” ucap Adrian tegas.

“Tapi aku tidak menyukaimu”

Adrian mulai tertarik dengan pembicaraan yang di lontarkan oleh Laura,” aku akan memaksamu menyukaimu. Ah! Tidak bahkan aku akan memaksamu menikah denganku”.

“Meskipun aku hamil ?” cicit Laura yang mampu di dengar oleh Adrian.

“…”

“Tidak lupakan “ Laura mengalihkan padangannya kemana pun asal tidak memandang Adrian. Laura tahu, jika ia mengatakan bahwa ia sedang hamil, pasti Adrian akan terkejut. Pasalnya, mungkin saja Adrian berpikir bahwa anak yang dia kandung bukan anaknya.

Adrian memegang tangan Laura dan terkekeh dengan pernyataan Laura. Tidak, mungkinkan ia hanya melakukannya satu kali pada Laura. Itu lah yang ada di pikiran Adrian. Tidak tahukah bahwa saat ini Laura sedang mengandung anakmu?

“Hai! Aku belum menjawabnya. Aku tidak percaya jika kamu hamil. Kita baru satu kali melakukannya” kata Adrian dengan senyuman yang mampu meluluhkan siapapun.

Deg

Mendengar kata-kata dari Adrian Laura hanya menghela nafas panjang. Benar, apa yang dikatakan Adrian mereka baru melakukan satu kali jadi tidak mungkin ia langsung hamil.

“Ya, kau benar” lirih Laura setengah kecewa pada laki-laki yang duduk dihadapannya.

****
Laura hanya termenung di balkon kamarnya. Ia masih memikirkan kata-kata Adrian. Apa mungkin Adrian mempercayainya? Apakah ia harus meminta pertanggung jawaban dari Adrian? Tidak, Laura mengurungkan niatnya, ia tidak akan memberitahu Adrian ataupun ayahnya.

Ia tidak mau jika nanti Adrian tidak mau menerima anak yang saat ini telah tumbuh dalam rahimnya. Biarkan kali ini ia egois.

Laura tahu suatu hari nanti ia harus berkata jujur oleh Ayahnya. Tapi Laura tidak sanggup untuk melihat wajah kecewa dari Ayahnya. Setelah ujian kuliah ia harus pergi jauh meninggalkan Jakarta tanpa ada seorang pun yang tahu. Ia akan membawa anak yang ada di kandungannya terlahir ke dunia, meskipun tanpa Ayah.

“Kita akan melakukannya bersama, sayang. Bantu mama, ehm?” Laura mengelus perutnya dengan lembut.

“Maafi Laura, Pa” gumam Laura.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar