Rabu, 19 Agustus 2015

Me Gusta Tu - 4




Hal yang menyenangkan dalam hidup Adrian adalah bisa bertemu dengan wanita pujaan hatinya ia tidak menyangka jika Laura merupakan anak dari bosnya. Dunia memang sangat sempit, ehm ? 






Ia sudah mencari kesana kemari tentang gadis itu namun ia tak kunjung bertemu saat ini tanpa di duga dan di harapkan ia bertemu dengan gadis yang ingin ia jumpai selama ini.
Ah Tuhan, memang sangat baik bukan pada Adrian. Memberikan kesempatan untuknya bertemu dengan gadisnya. Saat ini Adrian sedang berdiri di depan pintu sebuah apartement. Jantungnya kembali berpacu dengan kecepatan yang tidak stabil.
Kecepatan yang sulit di artikan. Ia tersenyum saat melihat sebuah kertas yang kini ada di tangannya. 
Ting~~Tong~~~ 
Dengan kekuatan yang maksimal Adrian memberanikan memencet bel Apartemen. Pintu besar itu terbuka menampilkan seorang gadis yang baru beberapa jam lalu bertemu dengannya. 
Seringai tercetak jelas di bibir Adrian. Ia menatap intens gadis yang ada di hadapannya itu. 
Sementara gadis yang aa di hadapannya terdiam mematung melihat laki laki yang tadi siang bertemu dengannya.
Pertemuan tanpa disenfaja,hem ? 
"Hai, apa kabar ? " tanya Adrian
Lauren memutar matanya merasa pertanyaan Adrian sangat tidak penting.
Adrian yang mengetahuinya hanya bisa tersenyum lina hari.
"Kau susan tahu keadaanku kenapa masih bertanya ? " ketus Lauren. 
Entah lah malam ini ia sepertinya ingin marah-marah mungkin bawaan dari bayinya. Itu pikir Lauren. 
"Hanya ingin tahu saja dimana tempat tinggalmu" ucap Adrian.
"Sebaiknya kau pulang aku sedang tidak ingin menerima tamu" Lauren mendorong tubuh tegap Adrian.
"Sana pergi " dorong Lairen, ia hendak menutup pintu apartemennya namun sebuah kaki menghalanginya.
"Apa yang kau lakukan ?" Seru Lauren.
Dengan dorongan yang sedikit bertenaga Adrian membuka pintu Apartemen Lauren. Ia melangkah masuk, sementara Lauren selangkah mundur melihat tatapan tambak dari Adrian.
Semakin intens Adrian mendekatinya dengan tatapan mata musangnya. Perlahan Lauren mundur hingga ia tidak mampu pergi kemana pun. 
"A...apa.. yang ingin kamu lakukan ?" Gugup Lauren. 
"Menurutmu?" Dingin Adrian.
" K-k-kau...."
Grep
Sambil terjangkit karena terkejut akibat Adrian memeluknya secara tiba-tiba.
"Aku merindukannya,sayang" 
Deg
Jantung Lauren bertalu dengan cepat, haruskah ia percaya dengan apa yang di rasakan oleh Adrian ? Entah mengapa tubuh Lauren tiba-tiba bergetar, ia terlalu takut, takut ingin mengatakan hal yang sebenarnya pada Adrian.
Bukan... bukan ia tidak mau memberitahu Adrian tentang kehamilannya, hanya saja ia takut jika Adrian tidak percaya jika anak hang di kandungnya adalah darah dagingnya. Bagaimana jika Adrian tidak menerima buah cintanya. Parahnya mereka tidak memiliki rasa cinta. Itu yang membuat Lauren menangis. 
"Hai, baby kenapa kau menangis ?" Tanya Adrian.
"Kau...hikss.. jangan... hiks... buat aku merasa bersalah" lauren menangis sesegukkan.
"Apa yang membuatku berpikir seperti itu?"
"Aku... Pergilah, aku tidak ingin bertemu denganmu" Lauren mendorong Adrian. 
"Kita baru bertemu, sayang. Kau menyuruhku pergi " Adrian menatap intens Lauren. Ia butuh jawaban yang pasti dari wanitanya.
" Tidak ini salah, sebaiknya kita tidak usah bertemu selamanya" Lauren membalikkan tubuhnya ia terlalu lelah menghadapi Adrian.
" Tidak kau tidak bisa mengusirnya" Adrian menarik tangan Lauren. Mendekap tubuh mungil Lauren.
"Kau tahu tidak bertemu denganmu selama beberapa bulan saya sudah membuatku hampir gila apalagi kau tidak ingin bertemu denganmu selamanya " Adrian menangkap wajah Lauren.
"Adrian aku..." 
Masa bodoh. Adrian mencium bibir Lauren dengan intens. Dia tidak ingin mendengar apapun dari bibir gadisnya. Lauren adalah miliknya tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Sekalipun Lauren memintanya untuk pergi.
Ciuman itu semakin lama semakin intens bahkan Adrian sudah memasukkan tanganya ke dalam baju Lauren.
Seakan berlarut dalam permainan Adrian, Lauren pun semakin agresif. Membuat Adrian tersenyum. Lama Adrian menahan hadiahnya. Bahkan tadi siang ia selalu uring uringan pada asistennya karena Lauren pergi begitu saja.
Dan malam ini mereka mengulang kejadian satu bulan yang lalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar