“Hoammm…selamat
pagi,Bibi !”
“Pagi,
Nona. Sudah bangun ?”
“Iya,“
jawabku dengan senyum. “ Cha-cha pergi mandi dulu yah,Bi “.
Dengan Memakai seragam sekolah. Aku
bergegas untuk pergi kemeja makan, di sana Teteh Gabriela telah menungguku.
“Pagi,
“ sapaku dengan senyuman.
“Pagi
cantik. Wow, seragam yang indah ya ?”
“Terimakasih”
jawabku lagi.
“Sebelum
berangkat ke sekolah makan dulu yah,Sayang. Habis makan……”
Aku
memotong pembicaraannya secara tiba-tiba,” terus minum obat “. Kemudian Dia
melihat diriku,”upps….. Maaf,Teteh !” kataku dengan muka kecewa.
Gabriela
hanya tersenyum padaku dan berkata,” Cha-cha capek yah,minum obat terus ?”
Pertanyaan
yang membuat aku kaget untuk menjawabnya. Aku menjawab dengan ragu,”
Cha-cha……..”. Tiba-tiba aku melihat jam yang ada di diding dekat meja makan,” Sudahlah
Teteh, Cha nggak papa kok. Obatnya mana? Soalnya ntar Cha-cha nggak dapat
angkot kalo berangkat kesiangan “.
“Kok
naik angkot?“ kata Gabriela.
“Teteh
!!” Aku cemberut.
“Baiklah
sayang. Hati-hati yah,Baby kecil “.
“Iya,”
jawabku sambil mencium pipinya dan berlari keluar.
Matahari
telah berada di timur, pagi yang indah dan cerah. Setiap hari melangkah seperti
ini untuk menuntut ilmu. “Hai, apa kabar matahari ? Cinta yang cerah untuk hari
ini secerah sinar mataharimu. Matahari terimakasih atas senyumanya untuk pagi
ini. Senyuman yang indah seindah cahaya pagimu. Berikan salam untuk semua orang
di dunia yah ? Owh, yah…. Salam juga sama mama papa dari Cha-cha gitu “ kata
hatiku sambil tersenyum kecil.
Seperti
biasa aku pergi kesekolah naik angkot yaitu angkutan kota. Lebih senang naik
angkot dari pada naik mobil pribadi, karena bisa lebih bermasyarakat.
Melihat-lihat secara langsung kegiatan semua orang yang mereka lakukan. Melihat
ekspresi semua orang pada pagi hari. Kapan lagi bisa seperti ini. Hidup dalam
kemewahan itu tak pernah menutupi bahwa aku kesepian. Hidup dalam kemewahan itu
tak pernah menutupi kalau aku sedang sedih. Hidup dalam kemewahan itu tidak
menutupi kalau aku sedang merindukan kakek dan kedua kakakku. Dan hidup dalam
kemewahan membuat aku menderita dengan meminum obat-obatan itu.
Seperti
inilah kegiatanku, rutinitas yang harus aku lakukan. Kegiatan yang
menyenangkan. Naik angkot, jalan kaki, ngobrol sama teman, dan lain-lain.
“Sudah sampai ternyata”.
“Pagi
Cha-cha,“ kata wali kelasku.
“Pagi,
Ibu. Pagi yang indah.“Aku tersenyum.
Aku
menelusuri lorong sekolahku menuju kelas. Ternyata sudah banyak yang datang
pagi ini. Apa yang akan terjadi pada hari ini?Apakah akan menyenangkan?
Jawabannya aku juga nggak tahu. Hanya Tuhan yang tahu apa yang terjadi hari
ini. Apakah indah seindah cahayanya di pagi ini atau tidak.
“Wew,
pagi-pagi sudah ngelamun ?”kata Denis.
“Denis,
apaan sih ? siapa yang melamun coba ?” jawabku spontan kaget.
“Itu
tadi, ntar kesambet loh sama……”
“Sama
apa ?” Aku
memotong pembicaraannya.
“Itu
sama Raisha” jawabnya sambil jeplak.
“Heheheheeh…..
Garing !”
“Ya
Allah, Cha masa gitu aja basi sih ?”
“Tau
ah ?” jawabku sambil pergi.
Denis
adalah sahabat aku dari SD, SMP, dan SMA. Dan lebih parahnya lagi aku selalu
satu sekolah sama dia meski aku berbeda kelas. Orangnya memang seperti itu
kalau berbicara asal jeplak sesuka hatinya, tapi sahabatku ini lucu loh kalo
dia sudah berbicara ngasal gitu. Dari dulu, Denis paling jago sama yang namanya
Bahasa Inggris. Nggak tahu kenapa kata Denis mau keliling dunia . Aku anggap
dia kayak saudara aku sendiri mungkin kayak kedua kakak aku.
“Heh,
kenapa lagi kamu sama Denis ?” kata Raisha.
“Tau
ah, orang aneh tu dia !” jawabku sinis.
“Lah,
di tanya kok malah gitu”.
Pergi
ke dalam kelas sambil menggerutu semua ini karena kerjaannya Denis. Pagi-pagi
sudah buat orang jengkel. Membuat orang darah tinggi. Dan membuat orang emosi
tingkat tinggi. Ketika aku menggerutu aku berkenalan dengan sesosok teman
perempuan yang cantik, baik, dan manis. Sambil berbalik
kemudian,”Hai…..Kayaknya kita belum kenalan yah ?”
“Hai,
iya” jawabnya.
“Cha-cha”
kataku sambil mengulurkan tanganku dan tersenyum.
“Andien”
jawabnya sambil membalas uluran tanganku dan tersenyum.
“Kamu
kok sendirian aja sih ? Belum punya temen yah ?”
Dia
hanya tersenyum saja. Aku pun membalas senyuman itu dari bibir mungilnya.Tak
lama itu bel berbunyi tanda masuk dalam kelas dan memulai pelajaran. Hari ini
pelajaran matematika. Wah, pelajaran eksak nie yang membuat aku bingung. Harus
tetap berusaha untuk hari ini.
Matahari senyuman yang
indah. Memberikan semangat yang indah untuk diriku untuk melangkah sedikit demi
sedikit. Matahari yang tersenyum memberikan secercah senyumanku pagi ini.
Apakah kau juga ingin memberikan senyuman itu untukku, CINTA ?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar