Sabtu, 01 Agustus 2015

Love - Chap 3



“Hoammm…selamat pagi,Bibi !”
“Pagi, Nona. Sudah bangun ?”
“Iya,“ jawabku dengan senyum. “ Cha-cha pergi mandi dulu yah,Bi “.
            Dengan Memakai seragam sekolah. Aku bergegas untuk pergi kemeja makan, di sana Teteh Gabriela telah menungguku.
“Pagi, “ sapaku dengan senyuman.
“Pagi cantik. Wow, seragam yang indah ya ?”
“Terimakasih” jawabku lagi.
“Sebelum berangkat ke sekolah makan dulu yah,Sayang. Habis makan……”
Aku memotong pembicaraannya secara tiba-tiba,” terus minum obat “. Kemudian Dia melihat diriku,”upps….. Maaf,Teteh !” kataku dengan muka kecewa.
Gabriela hanya tersenyum padaku dan berkata,” Cha-cha capek yah,minum obat terus ?”
Pertanyaan yang membuat aku kaget untuk menjawabnya. Aku menjawab dengan ragu,” Cha-cha……..”. Tiba-tiba aku melihat jam yang ada di diding dekat meja makan,” Sudahlah Teteh, Cha nggak papa kok. Obatnya mana? Soalnya ntar Cha-cha nggak dapat angkot kalo berangkat kesiangan “.
“Kok naik angkot?“ kata Gabriela.
“Teteh !!” Aku cemberut.
“Baiklah sayang. Hati-hati yah,Baby kecil “.
“Iya,” jawabku sambil mencium pipinya dan berlari keluar.
Matahari telah berada di timur, pagi yang indah dan cerah. Setiap hari melangkah seperti ini untuk menuntut ilmu. “Hai, apa kabar matahari ? Cinta yang cerah untuk hari ini secerah sinar mataharimu. Matahari terimakasih atas senyumanya untuk pagi ini. Senyuman yang indah seindah cahaya pagimu. Berikan salam untuk semua orang di dunia yah ? Owh, yah…. Salam juga sama mama papa dari Cha-cha gitu “ kata hatiku sambil tersenyum kecil.
Seperti biasa aku pergi kesekolah naik angkot yaitu angkutan kota. Lebih senang naik angkot dari pada naik mobil pribadi, karena bisa lebih bermasyarakat. Melihat-lihat secara langsung kegiatan semua orang yang mereka lakukan. Melihat ekspresi semua orang pada pagi hari. Kapan lagi bisa seperti ini. Hidup dalam kemewahan itu tak pernah menutupi bahwa aku kesepian. Hidup dalam kemewahan itu tak pernah menutupi kalau aku sedang sedih. Hidup dalam kemewahan itu tidak menutupi kalau aku sedang merindukan kakek dan kedua kakakku. Dan hidup dalam kemewahan membuat aku menderita dengan meminum obat-obatan itu.
Seperti inilah kegiatanku, rutinitas yang harus aku lakukan. Kegiatan yang menyenangkan. Naik angkot, jalan kaki, ngobrol sama teman, dan lain-lain. “Sudah sampai ternyata”.
“Pagi Cha-cha,“ kata wali kelasku.
“Pagi, Ibu. Pagi yang indah.“Aku tersenyum.
Aku menelusuri lorong sekolahku menuju kelas. Ternyata sudah banyak yang datang pagi ini. Apa yang akan terjadi pada hari ini?Apakah akan menyenangkan? Jawabannya aku juga nggak tahu. Hanya Tuhan yang tahu apa yang terjadi hari ini. Apakah indah seindah cahayanya di pagi ini atau tidak.
“Wew, pagi-pagi sudah ngelamun ?”kata Denis.
“Denis, apaan sih ? siapa yang melamun coba ?” jawabku spontan kaget.
“Itu tadi, ntar kesambet loh sama……”
“Sama apa ?” Aku memotong pembicaraannya.
“Itu sama Raisha” jawabnya sambil jeplak.
“Heheheheeh….. Garing !”
“Ya Allah, Cha masa gitu aja basi sih ?”
“Tau ah ?” jawabku sambil pergi.
Denis adalah sahabat aku dari SD, SMP, dan SMA. Dan lebih parahnya lagi aku selalu satu sekolah sama dia meski aku berbeda kelas. Orangnya memang seperti itu kalau berbicara asal jeplak sesuka hatinya, tapi sahabatku ini lucu loh kalo dia sudah berbicara ngasal gitu. Dari dulu, Denis paling jago sama yang namanya Bahasa Inggris. Nggak tahu kenapa kata Denis mau keliling dunia . Aku anggap dia kayak saudara aku sendiri mungkin kayak kedua kakak aku.
“Heh, kenapa lagi kamu sama Denis ?” kata Raisha.
“Tau ah, orang aneh tu dia !” jawabku sinis.
“Lah, di tanya kok malah gitu”.
Pergi ke dalam kelas sambil menggerutu semua ini karena kerjaannya Denis. Pagi-pagi sudah buat orang jengkel. Membuat orang darah tinggi. Dan membuat orang emosi tingkat tinggi. Ketika aku menggerutu aku berkenalan dengan sesosok teman perempuan yang cantik, baik, dan manis. Sambil berbalik kemudian,”Hai…..Kayaknya kita belum kenalan yah ?”
“Hai, iya” jawabnya.
“Cha-cha” kataku sambil mengulurkan tanganku dan tersenyum.
“Andien” jawabnya sambil membalas uluran tanganku dan tersenyum.
“Kamu kok sendirian aja sih ? Belum punya temen yah ?”
Dia hanya tersenyum saja. Aku pun membalas senyuman itu dari bibir mungilnya.Tak lama itu bel berbunyi tanda masuk dalam kelas dan memulai pelajaran. Hari ini pelajaran matematika. Wah, pelajaran eksak nie yang membuat aku bingung. Harus tetap berusaha untuk hari ini.

Matahari senyuman yang indah. Memberikan semangat yang indah untuk diriku untuk melangkah sedikit demi sedikit. Matahari yang tersenyum memberikan secercah senyumanku pagi ini. Apakah kau juga ingin memberikan senyuman itu untukku, CINTA ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar