Sabtu, 01 Agustus 2015

Love - Chap 2

Pulang sekolah, rasanya ingin melepaskan lelah dengan bermain games. Seperti biasa rumah sepi, hanya ada aku seorang. Mungkin saat ini Gabriela sedang bekerja sebagai dokter umum di rumah sakit dekat rumah kami. Sementara bibi, sibuk dengan tugasnya menyiapkan makan malam dan segala keperluanku. “ Saatnya bermain games,” batinku.
            Disela-sela aku bermain games, aku teringat dengan senyuman keluargaku yang ada di bingkai foto di samping komputer milikku. Ingin menangis melihat senyuman-senyuman indah itu. Kangen dengan kebersamaan itu. Kangen sama Kris, Yuri dan Carissa. Terutama aku kangen sama Kakek. “ Kapan bertemu mereka lagi ?” kata hatiku sambil meneteskan airmata. “ Semoga mereka baik-baik saja. Cha-cha sayang kalian semua. Terimakasih telah memberikan semuanya” .
            “Non, makan dulu. Terus ntar minum obatnya,“ kata bibi yang tiba-tiba masuk ke kamar.
            “Iya, Bi. “Aku mengapus airmata.
            “Non, nggak apa-apa kan ?“
            “ Nggak apa-apa, Bi . Udah Cha-cha mau ke bawah dulu mau makan.“ Aku pergi meninggalkan bibi.
            Aku berlari dari lantai dua rumahku menuju ruang makan yang berada di lantai satu. Melihat makanan yang telah di sediakan di atas meja makan. Jujur sebenarnya makanan-makanan itu sangat membosankan. Mungkin aku mencoba untuk membujuk bibi agar bisa di buatkan mie instant, makanan kesukaanku.
            “ Makannya ini aja ya, Bi?“ kataku.
            “ Iya, Non. Memang kenapa ?”
            “ Cha-cha mau makan mie instant,Bi. Cha-cha kepingin banget.“.
            “ Nggak boleh yah, Non ? Sekarang Nona duduk dan makan ini.“ Bibi menyuruhku duduk dimeja makan.
            Aku pun menuruti apa kata Bibi. Duduk di atas kursi meja makan. Aku mencoba lagi merayu bibi,” Bibi, mie. “
            “ Nggak boleh yah, Non ?”
            “ Hu-uh, Bibi pelit !” Aku marah.
            Sambil memakan makanan yang di taruh di atas piringku. Aku pun memakannya dengan wajah cemberut. “ Setiap Cha-cha pengen mie pasti nggak di bolehin sebenarnya kenapa sih ?” kataku sambil menggerutu. Bibi hanya tersenyum kecil. “ Habis makan, jangan lupa yah Cha-cha minum obat “ sambungku lagi sambil memasukkan makanan ke dalam mulutku. “ Jadi sebel Cha-cha nie, hu-uh”. Bibi cuma tersenyum saja ketika aku menggerutu seperti itu.
            “ Nah, udah selesai makannya, sekarang minum obatnya yah ?”
            “Iya,Bi. Cha-cha nggak lupa kok.“ Aku kesal kepada Bibi yang menyuruhku meminum obat.
            “Gitu dunk, cantik !”
            “Udah. Cha-cha mau ke kamar dulu ntar kalau Teteh Gabriela pulang, kasih tau Cha-cha.”
            “Iya, Non”.
            Berjalan menyusuri lorong-lorong rumah. Entah apa yang ingin aku lakukan di rumah sebesar ini. Tidak ada orang hanya aku saja yang berada di dalamnya. Seperti di penjara dalam keping-keping bayangan yang ada di rumah ini. Ingin rasanya seperti burung yang terbang menyusuri dunia yang megah ini. Aku berhenti di depan kamar kerja kakek. Aku buka pintu itu perlahan-lahan. “Kapan kakek pulang dari perjalanannya, ya ?” kata hatiku. “ Kangen sama kakek, pengen bermain bersama dia lagi. Tapi akhir-akhir ini kakek sibuk.”
            Memang benar aku di lahirkan di keluarga yang sangat kaya, tapi itu semua hanyalah topeng belakang. Aku merasa kesepian di dalam hatiku. Aku anak terakhir dari tiga bersaudara, kedua kakakku adalah laki-laki tapi bereka berdua telah menikah. Sekarang aku tinggal bersama istri kakak keduaku, sedangkan kakakku  sibuk dengan pekerjaannya di luar negeri.
            Kedua orangtuaku telah tiada, ibu meninggal setelah melahirkan aku, sementara ayah meninggal ketika aku masih berada di dalam kandungan. Waktu itu ayah sedang berpergian keluar kota, entah bagaimana ayah tiba-tiba menabrak sebuah trotoar yang ada di pinggir jalan. Setahuku jalan ceritanya seperti itu.
            Aku nggak pernah tahu bagaimana kasih sayang orangtua kepada anaknya. Namun bagaimanapun aku bersyukur telah mempunyai orang-orang yang menyayangiku saat ini. Wajar jika aku terkadang suka iri kepada semua orang yang masih memiliki kedua orangtua yang masih lengkap.
            Aku duduk di kursi meja kerja kakek, melihat ruangan itu yang terlihat rapi. Susunan-susunan buku yang tersusun rapi di tempatnya. Melihat suasana ruang kerja kakek yang  tenang, membuat aku memejamkan kedua mataku. “Kapan pulang, Kakek ?” kataku dengan perlahan. “Cha-cha, kangen,“ sambungku lagi.
Tiba-tiba aku membuka sebuah laci milik Kakek. Di sana ada data dari Rumah sakit, yang membuat aku terkejut adalah di sana ada namaku. “DIANA PYDDYA ALEXANDRA CHAIREN ZHU”. Aku membuka map tersebut dan melihat isinya. Saat itu aku tidak sadar mataku melotot dan membesar. Mataku kemudian menerawang tidak percaya. Jadi selama ini yang mereka sembunyikan adalah ini. Selama itukah mereka menutupinya, 16 tahun mereka selalu bilang aku baik-baik saja. Tanpa terasa aku meneteskan air mata. Dan air mata itu sudah mengalir di kedua pipiku. “ Kenapa? Kenapa,Tuhan? Kenapa semua ini ditutupi, Tuhan? “
Aku tidak percaya dengan semua ini. Obat-obatan, larangan-larangan, tiap bulan check up, darah, pingsan. Jadi ini, mereka semua khawatir karena ini? Selama itukah mereka telah menutupiku agar aku tidak mengingat kematianku? Separah itukah keadaanku? Aku mengatur emosiku dengan sebaik-baiknya. Aku sekarang tahu mereka seperti ini demi kebaikkanku mereka sibuk karena keadaanku. Mereka semua terlalu sayang padaku.
Aku menghapus air mataku. Menganggap semuanya tidak terjadi apa-apa. Aku meletakkan dataku ketempat semula. Aku akan seperti biasa mengganggap aku baik-baik saja sampai suatu saat aku akan memberitahu mereka bahwa aku sudah mengetahuinya. Jadi, sekarang adalah memanfaatkan waktu sebaik-baik mungkin untuk bisa bersama dengan mereka semua. Yah, bersama dengan kakek, kedua kakakku dan kakak ipar beserta teman-temanku.
            Bel rumah berbunyi. Bibi yang dari dapur pun berlari menuju pintu utama untuk membukakan pintu rumah. Tiba-tiba, “ Cha-cha mana, Bi “Gabriela tergesa-gesa.
            “Tadi katanya ke kamarnya, Non “jawab Bibi.
            “ Cha-Cha………. Cha-cha………!!” Panggil Gabriela.
Aku terkejut mendengar suara itu. Kubuka pintu, dan aku cepat-cepat berlari menuju suara yang memanggil-manggil diriku. “ Teteh…..!!” Aku tersenyum.
Tiba-tiba saja Gabriela memelukku, “Teteh kangen sama Cha-cha “.
Aku hanya bisa tersenyum lalu berkata,” Kan Cha-cha baru aja sekolah,kenapa kangen ?” Tanyaku.
“Kangen lah sama adiknya Kak Kris yang lucu ini.“Gabriela mencubit pipiku.
Aku hanya bisa tersenyum dan memeluk dirinya. Seperti memeluk seorang Ibu. Meski aku tak tahu bagaimana rasa kasih sayang itu. Aku sayang dengan kakak iparku yang cantik ini. Tuhan, merencanakan semuanya. Merencanakan aku tak bertemu dengan orangtuaku namun Tuhan mengirimkan banyak malaikat-malaikat ke dalam kehidupanku. Rencana itu begitu indah sampai-sampai aku tak ingin pergi seperti mimpi yang tak ingin terbangun dari mimpi itu.
Kak Gabriela selalu merasakan apa yang aku rasa, seperti seorang ibu yang merasakan kegalauan anak-anaknya. Felling yang kuat yang di milikinya. Dia tahu perasaan diriku semuanya. Saat aku sedih, gembira, marah, dan segalanya. Semua itu dia redakan dengan cinta dan kasih sayang. Terkadang aku berpikir bahwa ketika Kak Kris menikah dengan seorang wanita aku tidak pernah di perhatikan tapi aku salah, Kak Kris mendapatkan jodoh yang jauh lebih baik.  Kakak ke dua yang aku sayang. Selalu bersama dirinya kemana aku pergi. Tapi kini aku hanya sendiri berada di Indonesia.
Orang-orang yang terindah dalam hidupku. Jangan hapus mereka dari pikiranku. Orang-orang yang membuat aku terkadang iri terhadap mereka. Karena aku selalu tak di perbolehkan berpikir keras dan lain-lain. Malaikat-malaikat yang selalu menjaga diriku. Inilah hidup terkadang di atas tapi kadang juga di bawah.
“Ikut, Teteh yuk ?” Gabriela yang tiba-tiba muncul dari belakang pintu kamarku.
“Mau kemana ?”Tanyaku.
“Ikut aja. Mau yah ?”
“Ehhhmmmm…. Ok. Cha-cha ganti baju dulu yah ?”
Jam 04.00 WITA aku di ajak pergi jalan-jalan ke Mall bersama Gabriela. Seperti biasa dia mengajakku untuk menghilang stress belakang. Jalan bersama dirinya begitu menyenangkan. Kapan lagi bisa jalan-jalan sama seorang dokter, yang pintar, cantik lagi yah pokoknya sempurnalah. Matahari yang menggeser ke sebelah barat yang diam-diam mengintip diriku berpergian bersamanya.
“Sore yang indah “gumamku.
“Iya, senyum matahari seperti dirimu” Gabriela menyetir mobil.
Aku hanya tersenyum. Melihat pemandangan sekitar. Seperti lama tak melihat pemandangan itu. Kota yang indah, sejuk, dan asri. Di sore yang indah menghirup udara sekitar. Membuat nafas menjadi lebih lega melepaskan segala beban yang ada di dada.
“Ntar kalau sampai Mall Cha-cha belanja sesuka hati Cha-cha yah ?”
“Iya”Aku  tersenyum.
Di dalam Mall aku berbelanja sesuka hatiku sesuai permintaan hatiku. Seperti bisa berbelanja kebutuhan perempuan dan banyak cemilan. Makanan-makanan yang aku sukai. Rasanya seperti lama tak keluar rumah bersama dengan orang yang aku sayang.
“Ternyata belanjaannya banyak sekali yah ?” Gabriela membawa trolly belanjaan.
“Kalau kebanyakan ntar sebagian Cha-cha kembalikan “ jawabku dengan santai.
“Tidak usah, justru teteh mau tanya apakah ini sudah cukup belanjanya ?”
“Udah, Teteh “ aku tertawa kecil.
Beginilah cara Teteh Gabriela menenangkan segala pikiranku dengan berbelanja beraneka ragam pakaian,makanan,minuman, dan lain-lain. Sampai-sampai terkadang aku bingung untuk menggunakannya. Aku sayang dengan semua orang yang berada di dekatku. Teteh Gabriela sudah aku anggap seperti ibuku sendiri, meski terkadang sibuk.

Malaikat-makaikat yang terindah itu adalah kalian semua yang telah memasuki kehidupanku. Tuhan mengirimkan mereka itu karena Tuhan tahu aku membutuhkan kalian. Termasuk aku membutuhkan dirimu, CINTA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar