Rabu, 09 Desember 2015

Kau Memilih Dia // 3

Kehamilanku sudah menginjak bulan ketiga. Kegiatan juga sama selalu datang ke Butik jika karyawanku membutuhkan.
Kakek memberikan kegiatan untukku yaitu mengurus butik hasil peninggalan ibuku.
Yah, aku memang suka menggambar aku bahkan mengambil jurusan desainer saat kuliah dulu.
Aku hanya terdiam menatap gambar yang ada dihadapanku. Sambil mengelus perutku.
Pikiranku melayang buana kemana pun.
Aku masih merindukannya. Merindukan priaku.
****
Sejak kejadian ia meminta izin padaku untuk menikah dengan Lucia. Aku hanya diam melihat kemesraan meraka berdua.
Aku tidak berkata apapun. Cukup memahami dan mengerti bahwa dia tidak menginginkanku.
Aku menghela nafas panjang, Fabian tidak pernah sekalipun mengizinkan aku untuk menegur sapa Lucia.
Ia juga tidak pernah bertanya lagi tentang ku tentang masalah pernikahan waktu itu yang sempat ia bahas.
Aku kecewa. Sungguh, orang yang dijodohkan oleh Kakek ternyata tidak menyukai kehadiranku.
Aku merasa asing.
Disini.
Aku berjalan keluar rumah menuju halaman belakang.
Rumah ini sungguh besar tapi jujur rumah ini sungguh sepi dan hampa.
Aku duduk disalah satu bangku. Tidak bisa memikirkan apa yang akan terjadi dalam rumah tanggaku.
Suamiku mengatakan jika ia tidak mencintaiku. Tidak ada cinta diantara kami.
Ia tidak tahu seberapa besar aku mencintainya dan menginginkannya.
Hatiku menjerit ketika melihat kemesraan yang ia lakukan pada yang lain.
Tidak puas untuk itu, beberapa hari ini ia menghindariku. Hal yang membuat aku selalu bertanya-tanya.
"Nona muda" seseorang memanggilku. Aku menoleh ke arahnya.
Bi Mirna, yang merupakan asisten rumah tangga di istana Fabian.
Hanya dia selama ini yang menjadi teman curhatku. Tidak ada yang lain.
Aku sungguh asing berada di kota ini.
Setelah menikah Fabian, membawaku keluar dari kota kelahiranku. Ia membawaku tinggal di kota kelahirannya.
Aku tersenyum menatap Bi Mirna. "Kenapa, Bi?" Ujarku lemah.
"Bagaimana kabar, Nona Muda?"
Aku hanya tersenyum lirih tanpa mengatakan apapun.
"Baik" ujarku.
Kami terdiam tanpa mengatakan apapun.
Hanya Bi Minta yang mengetahui keluh kesahku. Hanya ia yang bisa menjadi temanku.
"Niaaaaa...." sebuah panggilan membuat aku menoleh.
"Iya ada apa mas?" Aku pergi meninggalkan Bi Mirna yang tadi ingin berbicara padaku.
Aku berlari menuju Fabian yang sedang menungguku. Aku terdiam saat seorang wanita bergelayut manja di lengannya.
"Aku akan pergi bersama Lucia" Fabian mengucapkan dengan datar.
Aku hanya mengangguk dan ia pergi begitu saja.
'Kau akan baik-baik saja, Nia' batinku yang selalu menguatkanku.
***
"Niaaa!!!" Tersentak saat seseorang memanggil namaku. Aku menoleh dn mendapati Olla sudah berdiri di pintu ruanganku.
"Sudah berapa lama kau berada disana ?" Tanyaku.
"Menurutmu?" Cengir Olla.
"Tidak tahu" jawabku santai.
Olla merupakan sahabatku sejak aku duduk di bangku SMA sampai sekarang.
Ia merupakan sahabat terbaikku, meskipun ia memiliki kelakuan yang diluar kewajaran. Terkadang.
Ia sudah aku anggap seperti saudaraku sendiri.
"Kau sedang melamun kan ku ?" Tanya Olla yang sudah duduk di hadapanku.
Aku menggelengkan kepalaku.
"Kenapa ? Kau merindukannya ?l tanya Olla.
"Kau kemari untuk apa ?"
Aku berusaha mengalihkan pembicaraan. Sejujurnya aku tidak ingin membahas Fabian. Sudah cukup ia selalu mencuri hatiku hingga tak tersisa.
"Aku ingin memberikan ini dari Kakakku" ucap Olla.
Aku menerima sebuah amplop dari Kakakku. Ketika aku buka...
Deg
'Harus kah aku berpisah darinya ?'

Kau Memilih Dia // 2

"Aku akan menikah dengannya" aku terkejut dengan ucapannya.
Aku hanya diam tanpa mengatakan apapun. Jantungku berdegub dengan kencang tanpa aku sadari.
Diam.
Itulah reaksi yang sedang aku lakukan, tanpa mengatakan apapun.
Sulit rasanya ketika kau akan diduakan oleh orang lain.
Pernikahan ini dari awal memang sudah tidak terlihat baik baik saja. Bahkan terasa sangat aneh.
Aku hanya menundukkan wajahku meremas ujung bajuku.
Kenapa ?
Jika waktu itu dia menyetujui pernikahan ini, pada akhirnya ia akan bersama wanita yang ia cintai.
Lalu aku bagaimana ?
Apa aku akan bertahan dan menjalani pernikahan ini ?
Aku tidak bisa melakukannya. Sungguh. Aku terus terdiam.
Pria tampan itu duduk di sofa ruang tamu sambil menatapku dengan pandangan intens.
"Dari awal pernikahan ini tidak berjalan sesuai dengan keinginanku" ia kembali berbicara.
Pria ini, apa dia tidak memiliki hati. Atau mungkin ia tidak pernah menghormati wanita lain. Termasuk ibunya.
Pernikahan terjadi karena perjodohan yang dilakukan oleh Kakekku.
Aku tidak pernah tahu jika aku sudah di jodohkan. Saat aku sudah lulus kuliah kakek memintaku untuk menghadiri acara makan malam keluarga dan berakhirlah disini pernikahan yang tidak kami harapkan terjadi.
"Aku sudah berpacaran dengannya sejak 5 tahun yang lalu. Sebelum kau datang di kehidupan ku " kembali ucapannya terngiang.
Aku hanya bisa diam itu yang aku lakukan. Bibirku kelu. Sambil menghela nafas panjang. Aku memberanikan diri untuk menatapnya.
Mata tajam itu. Yang sudah berucap banyak padaku hari ini.
"Apa kau tidak masalah jika aku menikah lagi ?"
Tuhan, aku ingin meneteskan airmata saat ini juga. Pernikahan kami sudah berjalan 6 bulan. Dan baru kali ini ia berbicara panjang lebar padaku.
"Tanpa persetujuanmu pun sebenarnya ini semua tidak masalah" lagi aku hanya menghela nafas.
Dengan berat hati aku mengganggukan kepalaku.
'Tidak ada di dunia ini wanita yang ingin diduakan termasuk diriku" aku memberanikan diri untuk berbicara padanya dan pergi meninggalkannya.
***
Aku membuka kedua mataku. Mimpi itu lagi. Saat ia meminta izin untuk menikah dengan kekasihnya. 
Itu adalah sebuah mimpi buruk, yang terjadi dalam rumah yang tanggaku.
Bukan mimpi tapi semua itu kenyataan. Wanita mana yang mau diduakan selain diriku. Aku kembalikan badanku ke sebelah kanan sudah pagi.
Aku duduk menyandarkan tubuhku di kepala ranjang. Sambil tersenyum dan meraba perutku. "Pagi, anak Bunda".
Aku bertahan karena dia dan juga Kakek. Dan juga karena dia yang sudah mengubahku untuk belajar mencintainya.
Aku berjalan menuju pintu kamarku. Membukanya. Menuruni anak tangga dengan perlahan.
Disana aku melihat seorang pria paruh baya yang sedang menyesap minuman yang ada di tangannya sambil membaca koran.
Kakek. Adiyaksa Abimayu, seorang pengusaha sukses yang ada di Indonesia.
Bersama Reza Abimayu yang merupakan kakak kandungku.
Kak Reza tersenyum saat melihat yang berjalan kearah mereka masih dalam wajah yang kusut.
"Kau baru bangun sayang ?"
Aku menganggukkan kepalaku dan duduk disamping Kak Reza.
Kakek menatapku dan tersenyum. "Apa yang akan kau lakukan hari ini ehm?"
Aku hanya mengelengkan kepalaku. Aku merasakan Kak Reza yang menghela nafas dan Kakek yang mengusap keningnya.
Aku dan Kak Reza di besarkan oleh Kakek karena kedua orang tuaku meninggal dalam sebuah kecelakaan.
Ayahku adalah anak tunggal dari keluarga Abimayu. Sementara Ibuku, memiliki seorang adik yang bernama Tante Dira.
"Kau tidak menginginkan sesuatu?" Tanya Kak Reza.
Aku tersenyum."Jika aku ingin sesuatu aku akan mengatakannya pada Kakak".
Kak Reza kembali menyesap kopinya. "Baiklah,Kakek aku pergi ke kantor dulu ya ada beberapa yang harus aku selesaikan"Kakek hanya menganggukkan kepalanya.
Aku menatap kepergian Kak Reza.
Sejak kejadian itu aku tidak pernah diizinkan oleh Kakek bertemu dengannya bahkan aku keluar rumah akan di kawal oleh beberapa penjaga yang sudah di bayar oleh keluargaku.
Aku tahu kakek tidak ingin aku kembali padanya. Tapi ada yang mengikat kami. Ikatan yang tidak bisa di hapuskan.
***
Alex hanya bisa menggelengkan kepalanya saat rapat berlangsung.
Ia tahu sangat tahu bagaimana sahabatnya itu yang tidak fokus pada layar yang ada di hadapannya.
Tampak gelisah.
Dan tidak menyimak jalannya rapat dengan benar.
Rapat telah selesai dan Alex menghampiri Fabian.
"Bi, kau masih memikirkan Nia?"
Fabian hanya menghela nafas dan menatap sahabatnya. Banyak kata yang ingin ia ucapkan untuk sahabatnya itu tapi ia hanya berusaha diam.
Ada lubang besar yang tidak bisa ia ungkapkan.
Perasaannya sedang kacau. Ia ingin menyerah untuk mencari istrinya.
Seandainya ia tidak termakan oleh ucapan Tante Wina dan mantan kekasihnya ia tidak akan mengusir Nia yang selalu sabar menghadapinya.
Fabian tersenyum miris saat mengenang masa-masa dimana ia tidak menjadi imam yang baik untuk Nia.
Ia bahkan menyia-nyiakan wanita itu. Wanita yang selalu diam saat ia berbuat kasar.
Alex melirik Desy yang merupakan sekertaris Fabian. Gadis itu hanya mengangkat bahunya saat Fabian pergi meninggalkannya.
Alex berjalan mendekat ke arah Desy. "Apa yang terjadi ?"
" Tidak ada. Fabian sedari tadi seperti itu " ucap Desy santai dan berlalu.
"Sebelum kau pergi aku ingin bertanya padamu apa kau tahu tentang keberadaan Rania ?" Alex menarik tangan Desy yang memutar bola matanya.
"Kau tahu sekalipun aku tahu, aku tidak akan memberitahumu dan juga Fabian" Desy pergi meninggalkan Alex yang terdiam.
***
Menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya. Sambil menatap gedung-gedung pencakar langit.
Fabian menerawang saat Rania ada di sekitarnya.
Ia bersikap dingin, ketus, dan tidak peduli. Tanpa ia sadari ada perasaan yang lain menyusup diam diam ke dalam hatinya.
Beberapa bulan ini ia tidur tidak tenang. Bahkan pikirannya selalu memikirkan Rania.
Ia ingin bertemu dengan wanitannya. Kekasihnya. Tapi wanita itu menghilang tanpa ia tahu.
"Aku ingin kau pergi sejauh mungkin tanpa aku bisa melihatku lagi" Fabian membuka matanya.
Waktu itu ia sangat marah, saat Rania menampar wajah Lucia.
"Bodoh..." lirih Fabian.
"Rania aku akan mencarimu, aku akan mendapatkanmu" gumam Fabian

Kau Memilih Dia // 1

Tidak ada yang bisa aku lakukan saat ini, hanya bisa termenung dalam bayangannya.
Selamanya dia tidak pernah memiliki, walaupun aku berusaha sangat keras untuk bisa memperjuangkan pernikahan ini. Pada akhirnya aku yang mengalah.
Aku hanya menatap pasangan kosong yang ada di hadapanku. Televisi tang menyala menampilkan siaran yang tidak aku perhatikan sama sekali.
Aku hanya memikirkan bagaimana nasibku hingga hari ini. Bersama dengan nyawa yang ada di dalam perutku.
Aku, Raniya Abimayu. Keturunan dari keluarga Abimayu yang menikah secara paksa oleh seorang pengusaha muda bernama Fabian.
Perjalanan cinta yang cukup rumit, sehingga membuatku tak mampu untuk menang.
Aku mengalah untuk ia yang pergi meninggalkan ku bukan dia yang meninggalkan ku lebih tepatnya aku yang meninggalkannya.
Aku tidak pernah menyesal bisa bertemu denganmu, Fab. Batinku yang selalu meyakinkanku dengan segala keyakinan yang aku ucapkan.
"Nia..." seseorang menegurnya dari arah belakang. Aku menoleh dan tersenyum dia adalah Raka Abimayu. Kakakku, dia adalah seorang yang sangat aku hormati setelah kakek.
" Apa yang kau lakukan sayang?" Ucap Kak Reza khawatir.
Sejak peristiwa itu Kak Reza selalu menanyakan keadaanku. Ia bahkan selalu menceritakan apapun padaku. Mungkin ia pikir agar aku melupakan lelaki yang sudah meninggalkan luka yang dalam.
" Tidak ada" gumamku dengan suara kecil dan parau.
Ia menunduk dan mensejajarkan dirinya di hadapanku. Dan mengusap kedua pipiku.
" Kau tahu aku menyayangi. Kau adalah adikku, Nia " senyum Kak Reza membuatku meneteskan airmata.
" Aku merindukannya" lirihku dengan suara yang sangat kecil.
" Ingat, aku bukan tidak mau kau mengingat dia yang akan menyakiti dirimu dengan calon bayimu" katanya dengan wajah mengeras saat aku mengatakan aku merindukannya.
" Kak, ini semua..."
" Tidak!! Aku tidak akan mempertemukanmu dengan dia. Apapun yang terjadi dia pantas mendapatkannya, Nia" marahnya yang membuatku terkejut.
Ia berdiri lalu melangkah pergi. Sebelum benar benar pergi meninggalkanku, ia berbalik dan berkata," Aku dan Kakek tidak akan mengizinkan dia datang dalam kehidupanmu. Hingga ia merasakan bagaimana kehilangan orang yang sangat berarti baginya" seketika airmataku menetes.
Bagaimana mungkin, aku merindukannya. Sungguh. Merindukan ayah dari bayi yang aku kandung.
Ini adalah awal dari kisahku. Kisah yang tidak pernah kalian ketahui kisah cinta dan pengorbanan tentang cinta.
***
Fabian hanya bisa memijat pelipisnya. Ada rasa sakit, berulang kali ia menghela nafas panjang tiada hentinya.
Memandang gedung- gedung tinggi dari jendela ruang kerjanya.
Ada guratan penyesalan dari wajahnya.
Dua bulan yang lalu ia sudah melakukan kesalahan. Membuat dirinya merasa bodoh dan dungu.
Tanpa ia sadari, ia menyakiti seseorang yang begitu tulus kepadanya.
Seharusnya ia mengutuk dirinya sendiri karena ia adalah dalang dari semua penyebab dari segala masalah yang terjadi dalam kehidupannya.
Ia selalu menyalahkan seseorang yang sudah mengusik ketenangannya padahal jelas sekali orang itu tidak pernah mengusiknya.
Senyuman itu.
Saat ia menyakiti wanita itu, ia hanya tersenyum dengan lembut walaupun Bian tahu ada kesedihan yang tersimpan dari senyuman itu.
Tapi ia tidak mempedulikannya. Ia hanya asik dengan kesenangannya. Dengan segala perjanjian yang ia buat. Tanpa tahu bahwa wanita itu adalah pengaruh terbesar yang sudah memporak porandakan pikiran dan hatinya.
Bukan Lucia yang selama ini merupakan kekasihnya.
" Nia, kau dimana ?" Fabian menenggelamkan kepalanya di kedua tangannya yang terlipat diatas meja kerjanya.
Kenapa ?
Kenapa baru sekarang kau menyadari, Fabian. Bahwa Nia sangat berarti dalam hidupmu. Runtuknya dalam hati.
Ini adalah kesalahan fatal dalam hidupnya. Mencintai orang yang salah dan memilih yang salah. Tanpa ia ketahui bahwa dihadapannya ada wanita yang benar - benar hebat yang selalu menantinya. 
Clek
Pintu ruangan terbuka menampilkan seorang laki-laki yang berjalan ke arah Bian.
Bian mendongakkan kepalanya. " Apa sudah ketemu ?"
Alex yang merupakan sahabat dari Bian hanya menggelengkan kepalanya.
"Kita harus mencarinya pelan-pelan, Bi"
" Kau tahu aku adalah pria bodoh yang sudah melakukan kesalahan sangat fatal" Bian berdiri dan memandang langit yang terlihat akan turun hujan.
" Apa menurutmu ini hukuman untukku ? "
Alex menggelengkan kepalanya lalu berjalan mendekat ke arah Bian. " Semua manusia pasti memiliki kesalahan, Bi. Aku juga pernah punya kesalahan. Hanya waktu yang mampu menyadarkan kita".
" Aku ingin tahu bagaimana keadaan Nia. Apa dia baik- baik saja setelah aku menyuruhnya pergi" lirih Bian.
" Dia akan selalu baik-baik saja, Bian"
'Aku merindukan senyuman matahari'
Bian kembali memijat pelipisnya. " Aku harap ia baik-baik saja, Lex"
Alex merasa kasian pada sahabatnya itu, ia hanya menepuk pundak Bian mengatakan bahwa ia tidak perlu khawatir.
****
Seandainya kau tahu kita memiliki rasa yang sama, kenapa kau baru menyadari saat kau kehilanganku - Rania
Penyesalan itu selalu datang terlambat tanpa sadar, aku merindukanmu. Sayang, dimana kamu saat ini - Fabian

Kau Memilih Dia // Prolog

Kini aku berdiri disini memandang malam yang sepi. Menundukkan kepalaku sambil mengusap perutku.
Sudah dua bulan aku berada di rumah, di istana kakek lebih tepatnya. Semenjak kejadian pengusiran itu aku hanya bisa diam menatap bagaimana nasib bayiku kelak tanpa seorang Ayah ?
Ini membuatku menjadi bingung semua yang terjadi dalam hidupku seperti sudah direncanakan.
Kepingan luka itu terus aku ingat, kepingan hati yang tergores itu aku sangat ingat.
Fabian Wijayaningrat, nama itu selalu menghantui selama beberapa bulan terakhir ini. Betapa aku merindukannya.
Tidak mengetahui kabar suamimu. Aku tahu dia tidak mencintaiku dan selama aku menghilang dari hidupnya aku akan mencoba untuk memperbaiki hidupku bersama dengan dia.

Rabu, 19 Agustus 2015

Me Gusta Tu - 4




Hal yang menyenangkan dalam hidup Adrian adalah bisa bertemu dengan wanita pujaan hatinya ia tidak menyangka jika Laura merupakan anak dari bosnya. Dunia memang sangat sempit, ehm ? 






Ia sudah mencari kesana kemari tentang gadis itu namun ia tak kunjung bertemu saat ini tanpa di duga dan di harapkan ia bertemu dengan gadis yang ingin ia jumpai selama ini.
Ah Tuhan, memang sangat baik bukan pada Adrian. Memberikan kesempatan untuknya bertemu dengan gadisnya. Saat ini Adrian sedang berdiri di depan pintu sebuah apartement. Jantungnya kembali berpacu dengan kecepatan yang tidak stabil.
Kecepatan yang sulit di artikan. Ia tersenyum saat melihat sebuah kertas yang kini ada di tangannya. 
Ting~~Tong~~~ 
Dengan kekuatan yang maksimal Adrian memberanikan memencet bel Apartemen. Pintu besar itu terbuka menampilkan seorang gadis yang baru beberapa jam lalu bertemu dengannya. 
Seringai tercetak jelas di bibir Adrian. Ia menatap intens gadis yang ada di hadapannya itu. 
Sementara gadis yang aa di hadapannya terdiam mematung melihat laki laki yang tadi siang bertemu dengannya.
Pertemuan tanpa disenfaja,hem ? 
"Hai, apa kabar ? " tanya Adrian
Lauren memutar matanya merasa pertanyaan Adrian sangat tidak penting.
Adrian yang mengetahuinya hanya bisa tersenyum lina hari.
"Kau susan tahu keadaanku kenapa masih bertanya ? " ketus Lauren. 
Entah lah malam ini ia sepertinya ingin marah-marah mungkin bawaan dari bayinya. Itu pikir Lauren. 
"Hanya ingin tahu saja dimana tempat tinggalmu" ucap Adrian.
"Sebaiknya kau pulang aku sedang tidak ingin menerima tamu" Lauren mendorong tubuh tegap Adrian.
"Sana pergi " dorong Lairen, ia hendak menutup pintu apartemennya namun sebuah kaki menghalanginya.
"Apa yang kau lakukan ?" Seru Lauren.
Dengan dorongan yang sedikit bertenaga Adrian membuka pintu Apartemen Lauren. Ia melangkah masuk, sementara Lauren selangkah mundur melihat tatapan tambak dari Adrian.
Semakin intens Adrian mendekatinya dengan tatapan mata musangnya. Perlahan Lauren mundur hingga ia tidak mampu pergi kemana pun. 
"A...apa.. yang ingin kamu lakukan ?" Gugup Lauren. 
"Menurutmu?" Dingin Adrian.
" K-k-kau...."
Grep
Sambil terjangkit karena terkejut akibat Adrian memeluknya secara tiba-tiba.
"Aku merindukannya,sayang" 
Deg
Jantung Lauren bertalu dengan cepat, haruskah ia percaya dengan apa yang di rasakan oleh Adrian ? Entah mengapa tubuh Lauren tiba-tiba bergetar, ia terlalu takut, takut ingin mengatakan hal yang sebenarnya pada Adrian.
Bukan... bukan ia tidak mau memberitahu Adrian tentang kehamilannya, hanya saja ia takut jika Adrian tidak percaya jika anak hang di kandungnya adalah darah dagingnya. Bagaimana jika Adrian tidak menerima buah cintanya. Parahnya mereka tidak memiliki rasa cinta. Itu yang membuat Lauren menangis. 
"Hai, baby kenapa kau menangis ?" Tanya Adrian.
"Kau...hikss.. jangan... hiks... buat aku merasa bersalah" lauren menangis sesegukkan.
"Apa yang membuatku berpikir seperti itu?"
"Aku... Pergilah, aku tidak ingin bertemu denganmu" Lauren mendorong Adrian. 
"Kita baru bertemu, sayang. Kau menyuruhku pergi " Adrian menatap intens Lauren. Ia butuh jawaban yang pasti dari wanitanya.
" Tidak ini salah, sebaiknya kita tidak usah bertemu selamanya" Lauren membalikkan tubuhnya ia terlalu lelah menghadapi Adrian.
" Tidak kau tidak bisa mengusirnya" Adrian menarik tangan Lauren. Mendekap tubuh mungil Lauren.
"Kau tahu tidak bertemu denganmu selama beberapa bulan saya sudah membuatku hampir gila apalagi kau tidak ingin bertemu denganmu selamanya " Adrian menangkap wajah Lauren.
"Adrian aku..." 
Masa bodoh. Adrian mencium bibir Lauren dengan intens. Dia tidak ingin mendengar apapun dari bibir gadisnya. Lauren adalah miliknya tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Sekalipun Lauren memintanya untuk pergi.
Ciuman itu semakin lama semakin intens bahkan Adrian sudah memasukkan tanganya ke dalam baju Lauren.
Seakan berlarut dalam permainan Adrian, Lauren pun semakin agresif. Membuat Adrian tersenyum. Lama Adrian menahan hadiahnya. Bahkan tadi siang ia selalu uring uringan pada asistennya karena Lauren pergi begitu saja.
Dan malam ini mereka mengulang kejadian satu bulan yang lalu.

Sabtu, 01 Agustus 2015

Me Gusta Tu - Chap 3




Laura terkejut saat melihat laki-laki yang ada dihadapannya. Mengapa tidak? Sedari tadi lelaki itu yang mengikutinya. Jadi, ia bernama Adrian. Nama yang tadi disebut oleh ayahnya. Apakah Laura salah mendengar ? Tidak ia, bisa melihat bagaimana senyuman mematikan dari laki-laki yang ada dihadapannya saat ini.

Bahagia. Itulah yang ada di gambaran wajah Adrian, ia kembali bertemu dengan wanita yang sempat mengalihkan pikirannya. Bagaimana tidak saat ini Laura sedang berada di hadapannya. Senang? Tentu saja ia senang melihat wanita yang selalu mengalihkan pikirannya berada di hadapannya lagi saat ini.

“Papa, kenapa …”

“Perkenalkan sayang, ini Adrian manager kepercayaan Papa” Ayah Laura memperkenalkan Adrian.

‘Apa? Papa?’ batin Adrian. Ia tersentak kaget karena panggilan yang dilayangkan Laura pada atasannya. ‘Ah,mungkin aku salah dengar’.

“Manager?” tanya Laura setengah terkejut.

“Ia, sayang. Kenapa ?” tanya Farel bingung.

“Tidak apa-apa” Laura menggelengkan kepalanya. “Aku sudah mengenalnya” cicit Laura.

“Kau mengenalnya?” tanya Farel lagi.

“Tidak, pak kami belum berkenalan” Adrian yang sedari tadi hanya diam terpaku membuka suaranya, lalu mengulurkan tangannya,” Halo, Adrian” senyum Adrian.

Laura tersenyum terpaksa karena ia pikir Adrian seperti orang bodoh, padahal mereka sudah berkenalan bukan, meskipun Laura tidak tahu tadi siapa nama pria yang kini mengulurkan tangganya hendak bersalaman,” Laura” balas Laura.

Farel tersenyum penuh arti akan perkenalan keduanya. Apakah Farel merencanakan sesuatu terhadap mereka berdua ? Tanpa Farel sadari jika sang putri semata wayang sedang mengandung ?

****
Siapa sangka sekarang ini Laura sedang duduk bersama dengan Adrian disebuah restoran? Ini semua karena ayahnya yang memaksa Laura untuk makan siang bersama dengan laki-laki yang menjengkelkan menurut Laura. Bagaimana bisa Adrian sedari tadi membuat seluruh mata menatap dirinya.

Memang benar Adrian memiliki pesona yang sangat berbeda, ia tampan, mapan, pintar, arogan, dan dingin. Namun, ia memiliki aura pemimpin yang sangat baik, dan satu lagi Adrian sangat tegas.

Laura hanya diam memperhatikan Adrian membuka menu makanan yang ada di restoran itu. Sambil mengelus perutnya Laura diam-diam mengukir senyuma,’Papa kamu ternyata tampan, sayang’ batin Laura.

“Jangan menatapku terus, nanti kamu suka sama aku” kata Adrian sambil menutup menu makanan.

Laura memutar bola matanya, “ Kenapa kamu percaya diri sekali “ ujar Laura.

“ Aku tahu kau terpesona olehku bukan?” tanya Adrian.

“Bukan” Laura menggelengkan kepalanya. “Aku hanya berpikir kenapa banyak wanita yang suka sekali menatapmu?” tanya Laura.

“Karena aku tampan”

“Benarkah, sisi mana yang tampan ?”

“Lihatlah wajahku”

“Wajahmu biasa saja” datar Laura membuat Adrian tersenyum.

“Kenapa kau tersenyum ?”

“Karena aku menyukaimu” ucap Adrian tegas.

“Tapi aku tidak menyukaimu”

Adrian mulai tertarik dengan pembicaraan yang di lontarkan oleh Laura,” aku akan memaksamu menyukaimu. Ah! Tidak bahkan aku akan memaksamu menikah denganku”.

“Meskipun aku hamil ?” cicit Laura yang mampu di dengar oleh Adrian.

“…”

“Tidak lupakan “ Laura mengalihkan padangannya kemana pun asal tidak memandang Adrian. Laura tahu, jika ia mengatakan bahwa ia sedang hamil, pasti Adrian akan terkejut. Pasalnya, mungkin saja Adrian berpikir bahwa anak yang dia kandung bukan anaknya.

Adrian memegang tangan Laura dan terkekeh dengan pernyataan Laura. Tidak, mungkinkan ia hanya melakukannya satu kali pada Laura. Itu lah yang ada di pikiran Adrian. Tidak tahukah bahwa saat ini Laura sedang mengandung anakmu?

“Hai! Aku belum menjawabnya. Aku tidak percaya jika kamu hamil. Kita baru satu kali melakukannya” kata Adrian dengan senyuman yang mampu meluluhkan siapapun.

Deg

Mendengar kata-kata dari Adrian Laura hanya menghela nafas panjang. Benar, apa yang dikatakan Adrian mereka baru melakukan satu kali jadi tidak mungkin ia langsung hamil.

“Ya, kau benar” lirih Laura setengah kecewa pada laki-laki yang duduk dihadapannya.

****
Laura hanya termenung di balkon kamarnya. Ia masih memikirkan kata-kata Adrian. Apa mungkin Adrian mempercayainya? Apakah ia harus meminta pertanggung jawaban dari Adrian? Tidak, Laura mengurungkan niatnya, ia tidak akan memberitahu Adrian ataupun ayahnya.

Ia tidak mau jika nanti Adrian tidak mau menerima anak yang saat ini telah tumbuh dalam rahimnya. Biarkan kali ini ia egois.

Laura tahu suatu hari nanti ia harus berkata jujur oleh Ayahnya. Tapi Laura tidak sanggup untuk melihat wajah kecewa dari Ayahnya. Setelah ujian kuliah ia harus pergi jauh meninggalkan Jakarta tanpa ada seorang pun yang tahu. Ia akan membawa anak yang ada di kandungannya terlahir ke dunia, meskipun tanpa Ayah.

“Kita akan melakukannya bersama, sayang. Bantu mama, ehm?” Laura mengelus perutnya dengan lembut.

“Maafi Laura, Pa” gumam Laura.